Zona Berita

17 Milyar untuk Santunan Korban Konflik Pilkada Kab. Puncak

 

 

 

 

pembayaran santunan korban ilagaSuasana pembayaran korban konflik Pemilukada Puncak di Distrik Gome, Kabupaten Puncak pada 21 Desember 2012 lalu.

JAYAPURA-Zona Damai: Pemkab Puncak telah mencairkan dana dari ABPD sebesar Rp 17 M lebih untuk membayar santunan korban konflik Pilkada di wilayah itu. Insiden yang dikenal dengan istilah ‘peristiwa Ilaga’ itu terjadi dua tahun lalu, tepatnya pada 30 Juli hingga 31 Juli 2011.

Pendukung calon Bupati Puncak dari kubu Simon Alom dan Elvis Tabuni terlibat perang tanding. Peristiwa itu terjadi ketika Simon Alom tengah mendaftar ke KPUD setempat sebagai bakal calon Bupati Kabupaten Puncak. Namun, berkasnya ditolak karena partai pendukungnya (Gerindra) ternyata telah mencabut dukungan. Pengurus Gerindra Kab. Puncak yang dipimpin Ketua DPC Thomas Tabuni ternyata telah mendukung Elvis Tabuni. Gara-gara pencabutan dukungan itu, masa pendukung Simon Alom marah dan menyerang masa pendukung Thomas dan Elvis Tabuni, sehingga terjadilah bentrok berdarah. Bentrokkan kembali terjadi 4 Januari 2012.

Data terakhir mengenai korban dalam insiden itu tercatat 300 orang tewas dan korban luka-luka 900 orang. Hasil kesepakatan Pemkab dan DPRD Puncak, korban luka-luka diberikan santunan sebesar Rp 1 juta per orang, sedangkan korban meninggal diberikan santunan sebesar Rp 300 juta per jiwa.

Calon Bupati Puncak, yang juga Ketua DPRD Kabupaten Puncak, Elvis Tabuni, mengatakan, pembayaran santunan korban konflik Pemilukada Kabupaten Puncak  yang telah menelan korban jiwa dan korban luka-luka baik di pendukung dirinya maupun pendukung Simon Alom sudah dituntaskan pembayarannya pada 21 Desember 2012 lalu. Dana santunan tersebut, tidak diterima oleh kepala perang melainkan diterima langsung oleh para korban dan keluarga korban yang tewas. Sedangkan biaya transportasi, logistik, dan akomodasi tidak termasuk dalam angka itu tersebut, melainkan ditanggung masing-masing keluarga korban.

“Pembayaran korban konflik Pemilukada Puncak itu sudah kami serahkan di Distrik Ilaga dan Distrik Gome.  Kalau di Distrik Gome yakni kelompok saya sudah 100 persen tuntas penyelesaiannya, tinggal pesta adat yang belum dilakukan” ungkapnya.

Menurutnya, pesta adat baru akan dilakukan tahun depan setelah Pilkada selesai.

“Sekarang masyarakat senang, mereka ingin membangun daerah Puncak, dan masyarakat mengharapkan Pemerintah Kabupaten Puncak dan KPUD Kabupaten Puncak segera laksanakan Pemilukada agar masyarakat punya pemimpin yang defenitif,” jelasnya.

Pesta adat itu bertujuan juga untuk pembayaran utang, dimana waktu perang mereka datang membantu, disitu mereka potong babi, makan bersama dan mereka akan diselesaikan utang-utang itu. Disini keluarga korban yang tinggal jauh pun diundang dan makan bersama semua. Dalam aturan adat juga bahwa babi harus diserahkan antero/utuh kepada pihak korban.

“Bisa saja Kami drop beras, tapi itu membutuhkan biaya besar, akhirnya masyarakat sepakat untuk buka kebun besar-besar , mereka sudah kerja, ada yang sudah tanam pertama. Secara aturan, Pemerintah Kabupaten Puncak, DPRD Kabupaten Puncak sudah sepakat untuk pembayaran korban konflik Pemilukada itu dengan dana APBD, dan itu sudah selesai, dan itu tidak ada tuntutan masyarakat kepada pemerintah lagi,” tandasnya.

“Pesta adat itu masing-masing kelompok, baik kelompok saya mapun kelompok Simon Alom. Pemerintah sudah cukup membantu beban yang besar itu, jadi pesta adat itu kami tidak kembali kepada pemerintah,” sambungnya.

Lanjutnya, dengan diselesaikannya pembayaran itu, dirinya mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan menuju segala pembangunan Kabupaten Puncak. Dua tahun lalu kita saling menganggap musuh, tapi tahun baru ini kita lupakan semuannya dan jangan terulang kembali, segala kesalahan sama-sama memperbaikinya, kemudian kita bersatu dalam mewujudkan pembangunan daerah di segala fisik maupun orangnya, maupun hatinya rakyat Puncak.

“Kami orang Puncak dari Suku Dani, Nduga, Lem, Wano, dan suku Damal yang mendiami Kabupaten Puncak itu, mulai dari Distrik Doko, lari sampai di Distrik Kyawake adalah yang ber Ibu Kota di Ilaga. kami  Puncak tidak membedakan suku, ras, golongan, tapi bersatu hati, bergandengan tangan membangun Kabupaten Puncak,” ujarnya.
Mengenai Bupati/Wakil Bupati terpilih, siapapun dia, Allah sudah siapkan. Namun, dari manusia sengaja mengacaukannya, mau merubah rahasia Allah itu, tapi harus diingat bagaimana pun tidak akan bisa merubah, tetap akan sesuai dengan rencana dan rahasia Allah itu akan terjadi.

“Ibaratnya, Tuhan Yesus lahir di kandang Betlehem, kita manusia tidak mengetahuinya, karena itu rahasia Tuhan. Sama halnya di Kabupaten Puncak, Bupati terpilih itu Allah sudah siapkan, tapi dari manusia berusaha mengacaukannya dengan berbagai cara,” tukasnya.

Dengan demikian, mari semua pihak bersama-sama bergandengan tangan untuk mendorong siapa yang dinilai senior dan mampu untuk membangun daerah ini dan rakyatnya, itu yang didukung, bukan untuk ambisi, untuk saling menjatuhkan, saling membenci, dan  saling membunuh.
Terkait dengan pembayaran korban itu, dirinya dan semua Keluarga Besar Aslan Nawi Arigi dari Kabupaten Puncak melakukan ibadah ucapan syukur sekaligus dirangkaikan dengan ibadah penyambutan Tahun Baru 2013 di kediamannya.

Ibadah tersebut dengan Thema, Perubahan Dalam Rencana Paulus (2 Korintus, 12-24), dan Sub Thema, Mari Kita Bergandengan Tangan, Bersatu Hati Dalam Segala Aspek Pembangunan Menuju Kabupaten Puncak Baru Tahun 2013. [Bintang Papua]

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s