Zona Berita

Menjaga Asa di Tengah Keterbatasan Sekolah di Pegunungan Wamena

Wamena – Tak ada fasilitas ‘wah’ di sini. Yang ada hanya jejeran bangku kayu, papan dan kapur tulis. Meski harus berdesakan di ruang kelas sempit, puluhan siswa SD Inpres Yiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua tetap bersemangat belajar.

Bukan cuma bangunan sekolah yang pas-pasan, sarana belajar mengajar pun minim. Buku paket per kelas hanya 5-10 buku, sangat minim dibanding jumlah siswa yang ada. Siswa pun belajar dengan apa adanya.

“Kami butuh buku paket semua pelajaran dari Kelas I sampai Kelas VI. Memang ada kiriman buku dari Pemkab Jayawijaya tapi tidak lengkap,” kata guru SD Inpres Yiwika, Welius Marian, Senin (26/11/2012).

Di SD Inpres Yiwika, ada 145 siswa dengan jumlah guru berstatus PNS 9 orang ditambah tenaga sukarela 1 orang. Kegiatan belajar mengajar di sekolah ini dimulai pada tahun 1981.

Menurut Welius, permasalahan pelik yang juga cukup merepotkan adalah kurangnya pemahaman orangtua atas pentingnya pendidikan.
“Kendalanya juga orangtua tidak antar anak ke sekolah. Karena tidak diantar, anak-anak ikut ke mana-mana, main atau malah ikut ke kebun,” terang Welius.

Kalau sudah begitu, praktis bangku-bangku jadi kosong. Jumlah siswa yang masuk tiap harinya selalu berubah. Welius menceritakan, kadang satu kelas hanya diisi 5-10 siswa. Tapi meski begitu, semangat tenaga pengajar tak berkurang.

“Kami ingin anak-anak maju, pintar dan membangun kampungnya,” tuturnya.

Minimnya sarana pendidikan di wilayah pegunungan juga dikeluhkan Pilatus Logo. Pada tahun 2006, Pilatus ditugaskan ke sekolah ini untuk mengajar. Saat itu Pilatus berstatus honorer, mendapat gaji dari gereja yang mengutusnya.

“Tahun 2011 kemarin status honorer dari gereja berhenti. Sekarang saya jadi guru sukarela,” ujarnya.

Pilatus berharap Pemkab Jayawijaya memberikan perhatian khusus bagi sekolah-sekolah di setiap distrik di pegunungan Wamena.
“Pemerintah harus tambahkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) supaya pembangunan sekolah fisik dan non fisik berjalan efektif,” harapnya.

Selain pembangunan sarana pendidikan, Pilatus juga berharap pemerintah memperhatikan nasib guru sukarela. Pilatus sendiri harus menunggu giliran ‘jatah’ dana BOS yang disalurkan per triwulan. Penghasilan itu baru didapat dengan syarat semua kebutuhan mengajar sudah terpenuhi.

“Pemerintah belum anggarkan gaji untuk tenaga sukarela atau honorer. Istilah disini memang honorer tapi honornya tidak ada, mengajar hanya sukarela,” imbuhnya.

Kepala Sekolah SD Inpres Yiwika, Sakeus Daby, menuturkan sarana pendidikan juga kesehatan harusnya jadi prioritas utama pemerintah untuk memajukan Wamena. “Guru profesionalnya belum cukup di pedalaman,” kata Sakeus.

Bahkan ada guru yang harusnya bertugas di pegunungan tapi malah memilih mengajar di kota. “SK mereka di pegunungan, tapi mereka tidak mau mengajar di sini. Guru-guru memilih mengajar nyaman di kota. Padahal masyarakat yang tinggal di balik gunung butuh pendidikan dan kesehatan,” katanya.

“Kita ingin pendidikan modern tapi tidak ada support, akhirnya kita ketinggalan,” imbuh Sakeus.

Dia menuturkan, dana BOS Rp 7 juta per triwulan tidak cukup dibanding kebutuhan sekolah yang harus dipenuhi. Agar dana BOS bisa tepat sasaran, Sakeus dan para guru selalu membahas peruntukan dana BOS yang diterima.

“Peruntukan dana BOS kesepakatan guru-guru saja. Misalnya satu triwulan untuk beli alat peraga, satu triwulan berikutnya disisihkan untuk gaji guru sukarela,” ucapnya.

Dengan minimnya sarana pendidikan, Sakeus berharap adanya bantuan secara langsung dibanding harus melewati jalur birokrasi. “Supaya tidak berbelit-belit, jadi bantuan yang diterima bisa langsung digunakan,” ujarnya.

“Masyarakat Papua harus merdeka, merdeka dari kemiskinan dan ketertinggalan pendidikan. Kita ini sama dari Sabang sampai Merauke, jadi tidak boleh ada yang dibeda-bedakan,” tutup Sakeus. [detiknews]

Categories: Zona Berita

Tagged as: , , ,

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s