Zona Berita

Juru Damai Konflik Maluku Dapat Gelar Doktor Causa

Juru Damai Konflik Maluku Dapat Gelar Doktor Causa

Malang-Zona Damai:  “Keberagaman dan kemajemukan merupakan salah satu nilai luhur dan sangat mendasar yang mengikat kita sebagai sebuah negara-bangsa. Falsafah dan ideologi nasional bangsa kita, Pancasila, lahir dari cita-cita dan kehendak para pendiri bangsa untuk mempersatukan sekaligus mempertahankan keberagaman kita sebagai bangsa.  Oleh karena itu negara tidak boleh kalah oleh anarki dan tindak kekerasan yang mengancam kemajemukan”.

Demikian orasi ilmiah yang disampaikan salah satu juru damai konflik maluku yang juga Gubernur Sulawesi Utara Dr Sinyo Harry Sarundajang saat menerima anugerah kehormatan  Doktor Honoris Causa di Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang, medio Juli lalu

Sarundajang juga secara gamblang menyampaikan urgensi merawat kemajemukan bangsa sebagai pijakan strategis untuk kemajuan bangsa ke depan. ”Kegagalan para pemimpin dalam merawat dan mengelola kemajemukan atau keberagaman hampir dipastikan akan menjadi malapetaka bagi masyarakat,” urai Sarundajang

Persoalan besar dan serius sekaligus tantangan dewasa ini adalah bagaimana agar keberagaman dan perbedaan asal-usul seperti agama, etnis, golongan, ras, dan daerah, tidak menjadi sumber konflik yang mengancam kehidupan kolektif  sebagai bangsa.

Sarundajang pun merujuk pada  pengalaman pribadi saat mendamaikan  Maluku yang sedang berkonflik di mana betapa besar keinginan dan antusiasme masyarakat  untuk turut mewujudkan kehidupan yang tenteram dan damai, serta sebaliknya, begitu bencinya mereka terhadap segala bentuk anarki dan tindak kekerasan.

”Hanya saja, masyarakat kita menunggu uluran tangan para pemimpinnya. Mereka bukan hanya ingin disapa dan didengar, melainkan juga ingin diajak bicara dan berdialog mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi,” kata dia. Mereka, yakni masyarakat  di daerah-daerah, pada dasarnya memiliki sistem nilai dan cara sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang diwariskan secara turun-temurun oleh komunitas yang bersangkutan.

Sarundajang mengaku ada dua hal yang ia lakukan di Maluku dan Maluku Utara yaitu; menyelesaikan konflik dengan pendekatan hati nurani dan memahami kearifan lokal yang ada di masyarakat.

“Bagi saya kedua hal ini merupakan hal yang hakiki, membutuhkan keberanian, kesungguhan dan ketekunan.  Saya wajib mempelajari kearifan lokal di tengah masyarakat yang sedang bertikai; memahami karakter, adat dan budaya masyarakat local,” katanya.

Sarundajang juga menyinggung pola kepemimpinan yang gagal memahami kearifan lokal. Para pemimpin  seringkali kurang menyadari keberadaan sistem nilai dan kearifan lokal ini, sehingga  terburu-buru dalam mengambil keputusan yang akhirnya berdampak pada kekecewaan masyarakat.

Oleh karena itu, Sarundajang mengusulkan pola kepemimpinan yang diperlukan oleh masyarakat majemuk seperti bangsa kita sebenarnya bukanlah semata-mata yang bersifat komando dan instruktif, tetapi justru kepemimpinan yang bersifat melayani dan mengayomi, dalam arti mau mendengar persoalan-persoalan masyarakat dari mereka secara langsung tanpa harus melalui prosedur protokoler dan birokratis.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr Imam Suprayogo dalam sambutan tertulisnya mengatakan penganugerahan gelar doctor kehormatan kepada Dr Sinyo Harry Sarundajang di bidang kepemimpinan masyarakat majemuk adalah pilihan yang dianggap sangat tepat setelah membaca kepemimpinan Sarundajang, ketika mengelola masyarakat Maluku yang dirundung konflik berkepanjangan akhirnya dapat tercipta keadaan kondusif, aman dan damai dengan cara merangkul dan mengayomi semua elemen masyarakatnya.

Rektor Universitas Gajah Mada, Prof Dr Pratikno dalam sambutannya mengatakan penganugerahan ini sebuah pengakuan akademik yang memiliki implikasi luas karena bertemakan kemanusiaan. ”Sifatnya global karena menyangkut nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh sosok Sarundajang,” ujarnya.

Senada dengan Pratikno, Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar juga mengaku pemberian gelar ini justru lebih monumental dari gelar Doktor Sarundajang di bidang politik yang ia raih lewat pendidikan formal di UGM. Gelar ini lebih berharga karena proses pemberian dilakukan di sebuah Universitas Islam di Malang kepada sosok pemimpin Kristen yang dinilai telah berjasa bagi kemanusiaan dan nilai-nilai kemajemukan bangsa. [VIVAnews]

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s