Zona Editorial

Setelah Teroris, Densus 88 Kini Gencar Memburu Para Pengacau Papua

Belakangan ini Polda Papua gencar melakukan operasi pemulihan kemanan. Salah satunya adalah menangkap sejumlah petinggi kelompok separatis yang diketahui terlibat dalam serangkaian aksi anarkis yang telah lama meresahkan warga Papua. Penangkapan diarahkan kepada anggota jaringan TPN-OPM dan KNPB yang berstatus DPO (Daftar Pencarian Orang) karena keterlibatan mereka dalam aksi-aksi anarkis di beberapa tempat.

Jumat (19 Oktober 2012) di Timika, lima aktivis KNPB (Komite Nasional Papua Barat / sebuah organisasi pendukung Papua Merdeka) ditangkap. Dihabarkan, mereka disergap aparat kepolisian yang diduga dari Detasemen Khusus (Densus) 88 dan Brimob dengan peralatan senjata lengkap. Ketua KNPB, Victor Yeimo membenarkan aksi penangkapan anggotanya itu.

Sebelumnya, Selasa, 2 Oktober 2012 Polda Papua juga  menangkap aktivis KNPB di Pelabuhan Jayapura. Mereka adalah Denny Hisage (26), Yasons Sambom (22), Anike Kogoya (22) dan Feliks Bahabol (23) dan Linus Bahabol (23). Mereka ditangkap di dalam kapal KM Labobar ketika sedang dalam perjalanan menuju Nabire.

Aksi penangkapan terhadap aktivis KNPB juga pernah dilakukan bulan lalu di Timika. Dikhabarkan ada 6 (enam) aktivis yang ditangkap di depan Gereja Ebenheser,  Timika pada Sabtu, (23/09/2012) lalu. http://majalahselangkah.com

Masih di bulan September 2012 di Wamena,  Polres Lembah Baliem telah menangkap Sekjen KNPB Wilayah Baliem, Janus Wamu (26) bersama tujuh rekannya. Mereka ditangkap pada Sabtu dini hari (29/9/2012) di Sekretariat KNPB Baliem, Wamena. Sekretariat KNPB itu ternyata rumah milik seorang aktivis KNPB bernama Pilemon Elosak, yang setelah digerebek oleh Polisi telah ditemukan dua bom siap ledak serta serbuk bahan peledak dalam 3 kantong plastik hitam, satu buah detonator dari alumunium dan satu bom botol.

Penggerebekan itu terkait aksi peledakan Kantor DPRD Jayawiaya di Wamena tanggal 1 September 2012 serta peledakan Pos Lantas Polres Jayawijaya tiga minggu setelah itu.

Penggeledahan dan penangkapan aktivis KNPB Lembah Baliem itu kontan mendapat reaksi keras dari salah seorang pimpinan tentara OPM yang mengaku sebagai Panglima Kodap I, ‘Kolonel’ David Darko. Melalui ponsel, sang ‘kolonel’ memberikan klarifikasi kepada wartawan di Jayapura, bahwa temuan bom itu hanyalan skenario pihak tertentu yang sengaja mengacaukan perjuangan bangsa Papua Barat.

Menanggapai tudingan OPM itu, Kapolda Papua Irjen Pol Drs M. Tito Karnavian pun angkat bicara. Intinya, tidak benar ada skenario apapun di balik tindakan penggeledahan dan penangkapan orang-orang yang terindikasi terlibat dalam pembuatan bom di Wamena itu. Bahwa polisi bergerak ke TKP setelah ada laporan masyarakat yang merasa terancam oleh aktivitas di sekretariat KNPB itu.

Karo Puspen Mabes Polri Boy Rafli Amar mengatakan, bom yang ditemukan di sekretariat KNPB Lembah Baliem itu diduga ditargetkan untuk meledakkan secara serenta di beberapa tempat di Papua. Sasarannya adalah Polres Jayawijaya, Kodim, batalyon, Jembatan Baliem, dan kantor kelurahan di samping kediaman Kapolres Jawijaya di Wamena.

Pjs. Kabid Humas Polda Papua AKBP I Gede Sumerta Jaya, SIK didampingi Wakil Direktur Reskrim Umum Polda Papua AKBP Parlindungan Silitonga, SIK di Jayapura, Rabu (17/10/2012) mengatakan, KNPB sedang melatih keterampilan merakit bom kepada aktivis KNPB  untuk mengganggu ketertiban dan keamanan demi menuntut referendum dan Papua merdeka.

Terkait penggerebekan itu, situs resmi KNPB http://knpbnews.com memberitakan Ketua KNPB wilayah Baliem, Simion Dabi menuding Polisi telah menggiring KNPB menjadi teroris. Tujuh akivis KNPB termasuk Sekjen KNPB Wilayah Baliem, Janus Wamu (26) telah ditangkap secara sewenang-wenang oleh Polisi dari satuan Densus 88 dan Polisi dengan senjata lengkap.

Sebagai bangsa, kondisi ini tidak cukup hanya kita sikapi dengan perasaan prihatin semata, tetapi lebih dari itu perlu ada spirit kebangsaan yang senantiasa kita berikan kepada warga Papua yang cinta damai dan mengidamkan Papua sebagai Zona Damai.

Penangkapan Pimpinan OPM

Pasca tewasnya Mako Tabuni (Pimpinan KNPB) Waena, Jayapura pada 14 Juni 2012 dan penangkapan salah satu pimpinan OPM, Dany Kogoya Tim Khusus Polres Jayapura Kota pada Minggu (2/9/2012) yang dilanjutkan dengan penggerebekan markas kelompok Dany Kogoya di Abepura Gunung yang berhasil menyita 2 pucuk senjata, ratusan amunisi, alat-alat tajam, serta sejumlah dokumen perjuangan Papua Merdeka, Polisi kini tampak gencar memburu sejumlah DPO yang terlibat dalam berbagai kerusuhan di Papua.

Pada Minggu, 14 Oktober 2012 Polda telah menangkap seorang petinggi TPN-OPM (sayap militer Organisasi Papua Merdeka) bernama Gideon Wenda ditangkap di Sentani. Jabatan ketentaraan Gideon dalam TPN-OPM adalah salah seorang Kepala Operasi Sektor yang beroperasi di wilayah Abepura di bawah pimpinan Dany Kogoya yang sudah lebih dahulu datangkap. Dany Kogoya sendiri adalah bagian dari Kelompok Lamber Pekikir yang bermarkas di Tanah Hitam, Distrik Abepura, Jayapura.

Gideon Wenda sudah lama masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) karena keterlibatannya dalam serangkaian kasus penembakan di wilayah Gunung Merah, Kampung Nafri, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Data Polisi menunjukkan bahwa Gideon telah terlibat dalam kasus Nafri I pada 28 November 2010 dan Kasus Nafri II pada 1 Agustus 2011.

Pjs. Kabid Humas Polda Papua AKBP I Gede Sumerta Jaya, SIK membenarkan penangkapan Gideon tersebut. I Gede mengatakan, Gideon kini berada dalam tahanan Polda Papua dan masih terus menjalani pemeriksaan. Selanjutnya yang bersangkutan diserahkan ke Polres Jayapura Kota untuk proses hukum lebih lanjut.

Dijelaskan juga bahwa selain Gideon dan Dany Kogoya,pelaku lainnya yang telah tertangkap beberapa waktu lalu masing-masing berinitial PDK, LS, KJ, PK serta NJ. Mereka adalah bagian dari kelompok TPN PB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat).

Sejauh ini belum ada lagi reaksi dari kelompok OPM terkait penangkapan sejumlah jaringan OPM itu. Namun cepat atau lambat, suara protes pasti akan muncul untuk menyudutkan tindakan Polisi. Ini bukan hal aneh, karena di wilayah Papua pembangunan infrastruktur jalan, pengobatan gratis bahkan pemberian beasiswa untuk kuliah di Jawa pun sering menuai suara sumbang dari kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang menginginkan Papua pisah dari NKRI. ***

http://regional.kompasiana.com/2012/10/21/setelah-teroris-densus-88-kini-gencar-memburu-para-pengacau-papua-bag2/

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s