Zona Berita

Emas yang Mengubah Pulau Buru…


Kehadiran tambang emas di kawasan Gunung Botak, Desa Wamsait, Kabupaten Buru, telah memengaruhi berbagai aspek di tengah masyarakat. Salah satu yang paling menonjol adalah aspek ekonomi.

Sejak ditemukan wilayah tambang emas di kawasan Gunung Botak, dalam setahun perputaran uang diperkirakan telah mencapai angka Rp 365 triliun. Hal itu dingkapkan Ketua Asosiasi Pertambangan Emas Rakyat Indonesia (Aspiri) Maluku, Andi Ridwan, kepada sejumlah wartawan di Ambon, pekan lalu.

Andi mengakui, saat ini secara yuridis formal pemerintah pusat belum mengeluarkan izin pertambangan rakyat (IPR) untuk operasi penambangan emas di Buru. Namun, jika hal tersebut sudah selesai, ditargetkan pada tahun 2013 mendatang hasil produksi emas di Pulau Buru bisa mencapai Rp 920 triliun.

“Jika pertambangan rakyat sudah dikeluarkan, target kita dengan jumlah tromol 100.000 unit dan tong 5.000 unit, maka pada 2013 nanti tingkat produksi emas dapat mencapai Rp 920 triliun,” ungkapnya.

Pemandangan di lokasi tambang emas P. Buru

Areal perbukitan di Wamsait yang semula dikeramatkan masyarakat adat—sehingga tidak ada yang berani masuk—lalu berubah ramai oleh aktivitas sekitar 12.000 pendulang dan pengepul yang membeli emas dari pendulang. Siang-malam, aktivitas itu seakan tak pernah surut. Mereka bahkan mendirikan tenda ala kadarnya sebagai tempat melepas lelah.

Eksploitasi emas tidak hanya dari material di permukaan tanah, tetapi juga di bawah tanah. Para pendulang menggali lubang hingga sedalam 5 meter, bahkan membuat terowongan yang memanjang sampai 10 meter. Karena saking banyaknya pendulang, jarak antarlubang hanya 1 meter, dan tidak jarang terowongan yang dibuat saling bertemu. Meski tebing perbukitan jadi rapuh dan rawan longsor, mereka tak lagi memedulikannya. ”Semakin dalam ke bawah tanah, emas yang ditemukan lebih banyak,” kata Jibril (35), pendulang asal Sulawesi Tenggara.

Jibril memperoleh 50 gram emas atau setara dengan Rp 19 juta setelah mengambil material di bawah tanah selama satu hari. Uang itu dibagi dengan dua rekannya sehingga ia memperoleh Rp 6,3 juta. Jumlah ini jauh lebih besar daripada yang diperolehnya saat mendulang emas di Bombana, Sulawesi Tenggara, yang saban hari hanya mendapat 1 gram emas. Besarnya uang itulah yang memicu Wansait dan hasil emasnya kini menjadi primadona. Masyarakat adat pemilik lahan tempat emas dieksploitasi yang mereka sebut Gunung Fudfavu pun ikut meraup untung. Setiap pendulang yang masuk diharuskan membayar Rp 100.000.

Dari hasil emas itulah, perputaran uang bisa mencapai miliaran. Salah satu pengepul emas, Akbar (29), mengatakan dalam sehari dia bisa membeli 200 gram sampai 1 kilogram emas atau setara dengan Rp 70 juta sampai Rp 350 juta dari pendulang. Padahal, di Buru sudah ada sedikitnya 50 pengepul yang tersebar di areal tambang Waeapo dan Namlea.

Karena banyaknya uang yang bisa diraih dari emas, banyak warga Kabupaten Buru beralih profesi. Nelayan tidak lagi melaut, begitu pula petani tidak lagi pergi ke sawah meski areal tanaman padi di Waeapo sudah masuk masa panen.

Inilah yang membuat pasokan bahan pokok dari petani dan nelayan berkurang, yang berimbas pada naiknya harga sejak sebulan terakhir. Beras, misalnya, dari Rp 7.000 per kilogram naik menjadi Rp 10.000 per kilogram. Padahal, Kecamatan Waeapo berperan sebagai lumbung beras Maluku. Areal sawah 5.483 hektar di Waeapo dengan produksi setiap tahun sekitar 22.000 ton beras bisa menutupi 30 persen kebutuhan beras. ”Terganggunya produksi beras di Waeapo bisa mengganggu ketahanan pangan Maluku,” ujar Bupati Buru Ramly Umasugi.

Itulah pertimbangan Bupati menutup areal tambang pada 8 Februari lalu. ”Penutupan juga atas permintaan masyarakat adat yang memiliki lahan di areal tambang,” kata Kepala Adat Derlale, Martin Wael.

Areal tambang pun dikosongkan sekaligus ditutup. Ribuan pendulang dipulangkan ke daerah asal mereka. Namun, ini hanya bertahan dua hari karena masih ada sebagian masyarakat adat yang menolak penutupan areal tambang.

Dari merekalah Bupati kembali mengeluarkan instruksi memberi jangka waktu hingga Rabu (15/2/2012) lalu untuk penutupan tambang.

Menurut Martin Wael, munculnya penolakan karena selama ini pemerintah dinilai tidak terlalu memperhatikan kehidupan masyarakat adat Buru yang hidup terisolasi. Desa Nufrat di Kecamatan Waeapo bisa menjadi gambaran dari pernyataan Martin. Jalan desa sejauh 50 kilometer buruk sekali dan tak ada jembatan di dua sungai menuju ke desa terisolasi itu.

Ini pula yang dijanjikan Ramly Umasugi yang baru dilantik menjadi Bupati Buru awal Februari lalu. Mengenai bentuk pengelolaannya, pemerintah masih memikirkannya.

”Bisa dengan mengajak investor, bisa juga membentuk badan usaha milik daerah atau koperasi. Kami masih pikirkan yang lebih banyak hasil positifnya bisa dirasakan masyarakat,” tutur Ramly. [Disadur dari : Kompas.com]

Categories: Zona Berita

Tagged as: , , ,

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s