Zona Tokoh

Nafsiah Mboi, Aktivis Peduli AIDS, dan Komitmen Sentani

Nafsiah Mboi


Zona Damai : Nafsiah Mboi terlahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940. Namanya sudah tak asing lagi di kalangan aktivis peduli HIV/AIDS hingga ke seluruh pelosok Aisa. Semakin tingginya angka penyebaran HIV/AIDS di Asia, memicu Nafsiah untuk aktif mendalami berbagai kegiatan penanggulangan HIV/AIDS. Sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), ia bekerjasama dengan pemerintah dalam menggagas “Komitmen Sentani”, untuk mengobati sedikitnya 5.000 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di enam provinsi rentan HIV/AIDS di Indonesia.

Suamainya adalah dr. Ben Mboi, putra Flores yang pernah menjadi Gubernur NTT. Ketika Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) yang diumumkan Soekarno pada 19 Desember 1961, dalam upaya pembebasan Irian Barat (Papua), Ben Mboy saat itu adalah satu-satunya dokter Angkatan Darat sekaligus pejuang (combatant) dan penerjun payung (airborne) yang diterjunkan dalam operasi Naga untuk pembebasan Irian Barat yang dipimpin Mayjen Soeharto.

Menteri Kesehatan
Bukan tanpa alasan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menunjuk Dr Nafsiah Mboi SpA MPH untuk menduduki jabatan Menteri Kesehatan. Kemampuan, pengalaman, dan pengabdian Nafsiah yang berkomitmen dalam kerja nyata untuk memajukan kesehatan masyarakat membuat Presiden memercayakan jabatan yang sebelumnya dipegang almarhumah dr Endang Sedyaningsih itu.

Nafsiah juga merupakan dokter spesialis anak yang mendapat gelar MPH dari Universitas Antwerpen, Belgia, pada 1990 dan sempat menjadi research fellow untuk Takemi Program dalam kesehatan internasional di Universitas Harvard, Cambridge, AS, pada 1990-1991. Ia juga aktif di bidang HAM dan pernah menjadi ketua komite hak-hak anak untuk PBB

Di bidang pemerintahan, Ibunda Maria Yosefina Tridia Mboi, Gerardus Majela Mboi, dan Henri Dunant Mboi ini pernah menjadi anggota MPR (1982-1987).

Jejak Nafsiah di Nusa Tenggara Timur
Bersama sang suami, sejak 1978, ia terus berusaha mengangkat derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat NTT yang saat itu merupakan provinsi tertinggal. Nafsiah memberi perhatian besar pada masalah perempuan dan kesehatan anak.

Atas usahanya tersebut, ia dan suami menerima Magsaysay Award pada 1986 dari pemerintah Filipina. Tak hanya itu, mereka juga diganjar Satya Lencana Bhakti Sosial pada 1989.

Alumnus jurusan spesialisasi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini juga memiliki kepedulian yang tinggi di bidang advokasi HIV/AIDS. Untuk itu, Nafsiah kemudian meneruskan pendidikannya di Harvard University, Amerika Serikat, untuk mendalami HIV/AIDS. Ia melihat HIV/AIDS bakal menjadi ancaman global karena bisa menyebar dengan cepat.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006, Nafsiah dipercaya menjabat Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional. Posisi ini menggantikan pejabat sebelumnya, Sukawati Abubakar.

Dan kini setelah menjalani fit and proper test, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi sudah menetapkan dirinya menjadi Menteri Kesehatan menggantikan Endang Rahayu Sedyaningsih yang telah meninggal dunia pada 2 Mei lalu. [dari berbagai sumber]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s