Zona Berita

Momentum 1 Mei, Mari Kita Belajar dari Bangsa Jerman

1 Mei 1963, di kediaman administrator UNTEA, Dr. Djalal Abdoh di New Guinea (Irian Jaya) Bendera PBB (UNTEA) diturunkan dan bendera Indonesia dinaikkan. Penghormatan senjata diberikan oleh pasukan tentara Indonesia, serta pasukan perdamaian PBB. (Sumber : Dok. Kemenlu)


Oleh : Hamid Ramli

Peristiwa 1 Mei tidak hanya bermakna bagi para pekerja (Buruh). Ada peristiwa sejarah 1 Mei yang perlu dimaknai untuk kepentingan yang lebih besar bagi masa depan bangsa ini, yaitu bertepatan dengan hari pembebasan Irian Jaya (Papua) dari penjajahan Belanda. Sempat diwacanakan agar 1 Mei -yang bertepatan dengan Hari Buruh Internasional itu- juga dirayakan sebagai Hari Integrasi Bangsa Indonesia.

Mengapa penting? Karena selama 3,5 abad bangsa ini berada dalam kekuasaan imperialis Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, Belanda tampak enggan meninggalkan bumi Indonesia nan subur dan kaya akan sumber alam ini. Namun karena kegigihan para founding fathers kita di bawah kepemimpinan Bung Karno, satu demi satu wilayah berhasil dibebaskan dari pendudukan Belanda, dan terakhir adalah Tanah Papua.

Integrasi versus Aneksasi

Sayangnya, perjuangan para founding fathers kita itu justru dimaknai secara negatif oleh sekelompok orang Papua yang menyebutnya sebagai aneksasi (penggabungan politik secara paksa). Benarkah Papua telah dianeksasi ? Mari kita simak isi Pidato Bung Karno terkait peristiwa 1 Mei 1963 yang dikumandangkan di Kota Baru (sekarang Jayapura) tanggal 4 Mei 1963 :


Dan syukur Alhamdulillah, 1 Mei, tiga hari yang lalu demikian itu terjadi. 1 Mei tepat, tatkala saya berada di tempat lain, saya mendapat laporan dari Bapak Dr. Subandrio, Wampa Irian Barat, Wampa untuk urusan Irian Barat, bahwa pada saat itu bendera UNTEA sudah turun, bendera Sang Merah Putih yang kita cintai telah dinaikan sebagai bendera tunggal di Irian Barat. Sejak hari itu Irian Barat, menurut laporan Dr. Subandrio, sudah kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Sekarang saya datang di sini saya laporkan kepada segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke bahwa Irian Barat telah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Kepada segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, kepada segenap rakyat Indonesia yang 100 juta jumlahnya, saya laporkan dengan resmi Republik Indonesia sudah utuh kembali, yaitu, saya ulangi, kekuasaan antara Sabang dan Merauke.

Saudara—Saudara mengetahui apa yang saya ucapkan di Ambon. Saudara mengetahui apa yang saya ucapkan di tempat lain-lain. Di Ambon saya menjadi Pattimura Agung. Di lain-lain tempat dikatakan, bahwa sayalah yang mengadakan kemerdekaan Indonesia ini. Ada yang mengatakan bahwa sayalah yang memasukan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Tidak, Saudara-Saudara, saya sekadar adalah penyambung lidah daripada rakyat Indonesia. Tanpa rakyat Indonesia saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jikalau kita bisa memproklamirkan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, itu bukanlah perbuatan Soekarno saja, tetapi ialah perjuangan daripada seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Jikalau Irian Barat sejak tanggal 1 Mei yang lalu, 3 hari yang lalu telah masuk ke dalam wilayah Republik, itupun adalah hasil daripada perjuangan rakyat. Dan terutama sekali hasil daripada rakyat Indonesia di Irian Barat pula.

(“Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat”, Penulis : H. Dr. Subandrio, Pengantar oleh H. Dr. Roeslan Abdulgani, Penerbit : Yayasan Kepada Bangsaku, Jakarta; Edisi : Cetakan k-II, Maret 2001).

Belajar dari Bangsa Jerman

Bangsa Jerman telah menetapkan tanggal 3 Oktober, sebagai Tag der Deutschen Einheit (hari persatuan Jerman). Ini dilakukan untuk mengingatkan orang Jerman akan peristiwa 3 Oktober 1990 dimana terjadinya persatuan Jerman timur dan Jerman barat. Peristiwa integrasi kedua wilayah yang berbeda ideologi itu kemudian dimaknai secara monumental dengan pencetakan uang 10 Euro dari koin perak. Tujuannya, agar peristiwa bersejarah itu tidak mudah dilupakan orang, khususnya bangsa Jerman sendiri, dan lebih khusus lagi generasi baru yang lahir pasca runtuhnya tembok Berlin.

Peristiwa 3 Oktober oleh bangsa Jerman telah dimaknai sebagai momentum untuk memperkokoh rasa nasionalisme mereka sebagai satu bangsa nan utuh. Sementara bagi warga asing yang datang dan hendak tinggal permanen di negeri itu, Pemerintah Jerman mewajibkan mereka mengikuti program Integrasi Ausländer, agar semua orang dari etnis manapun yang menetap di Jerman memiliki rasa nasionalisme yang sama.

Peristiwa 3 Oktober 1990 di Jerman nyaris serupa dengan peristiwa 1 Mei 1963 di Indonesia, yaitu bersatunya wilayah Irian Jaya (Papua) menjadi bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya momentum 1 Mei hanya dirayakan di Tanah Papua. Itupun hanya diperingati oleh kalangan terbatas, yaitu para PNS dan TNI/Polri. Sementara bagi kalangan kaum muda Papua malah sibuk berunjuk rasa menolak kehadiran Pemerintah RI berikut program-program kesejahteraan bagi masyarakat Papua, seperti kebijakan Otsus dan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B).

Rupanya mereka lupa bahwa PAPUA adalah satu-satunya wilayah yang proses integrasinya melibatkan dunia internasional melalui PBB dan juga melalui plebisit penduduknya. Dan PEPERA tahun 1969 adalah sebuah proses panjang dari hasil New York Agreement, 15 Agustus 1962 yang difasilitasi PBB. Hasil pelaksanaan PEPERA pun telah diuji keabsahannya dalam forum Sidang Majelis Umum PBB yang kemudian mengesahkannya dengan Resolusi PBB No. 2504 tanggal 19 Oktober 1969. Itu berarti, integrasi Papua ke dalam NKRI sudah final, dan dunia internasionalpun sudah mengakuinya.

Maka belajar dari Bangsa Jerman, barangkali tidak berlebihan kalau perayaan 1 Mei tidak hanya dilakukan oleh warga Papua saja dan untuk kepentingan wilayah Papua saja. Sebagai bangsa, kita perlu memaknai momentum 1 Mei untuk kepentingan yang lebih besar bagi keutuhan bangsa ini. Kiranya Pemerintah dapat mempertimbangkan agar tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Integrasi Nasional yang mesti diperingati secara nasional di seluruh wilayah NKRI untuk memperkokoh rasa nasionalisme kita sebagai satu bangsa nan utuh. [Kompasiana]
http://politik.kompasiana.com/2012/05/01/momentum-1-mei-mari-kita-belajar-dari-bangsa-jerman/

1 reply »

  1. Reblogged this on GO OKA WEMOHAWE and commented:
    Zwangs-Annektion von West-Papua unter Ahmed Sukarno, 1. Präsident von Indonesien, der zweimal in Niederländischer Haft im damaligen Kolonialreich von Holland saß. Persönliche Rache als Motiv ? (“act of free revenge” ?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s