Zona Editorial

Pilkada Paling Berdarah di Era Otonomi


Zona Damai : Pilkada di Kabupaten Puncak, Papua kembali menambah korban. Akhir Juli 2011 terjadi bentrok antar pendukung di Ilaga, mengakibatkan 17 orang tewas sia-sia. Bentrok kembali terjadi beberapa hari lalu, tiga tewas. Total korban tewas menjadi 20 orang. Belum terhitung yang luka-luka terkena panah, sumpit dan lemparan batu. Bahkan ada warga yang menggunakan senjata api.

Bermula dari rebutan dukungan ke Partai Gerindra. Calon Bupati Kabupaten Puncak Elfis Tabuni dan Simon Alom sama-sama mendapatkan dukungan dari Parpol Gerindra. Awalnya, partai itu mendukung Simon Anom sebagai calon bupati, tetapi saat hendak diverifikasi pada 30 Juli 2011, KPU setempat menolaknya. Alasannya, Gerindra sudah menarik dukungan. Sontak pendukung Simon Alom marah dan menyerang kelompok Ketua DPC Gerindra Puncak, Thomas Tabuni. Pendukung Simon Alom juga membakar rumah Elvis Tabuni. Kelompok pendukung Elvis tidak tinggal diam. Terjadilah bentrokan berdarah. 13 orang pendukung Elvis Tabuni tewas, sementara dari kubu Simon Alom 4 orang tewas.

Konflik ini terus berkobar hingga saat ini. Aparat keamanan seperti tak berdaya menghadapi bentrokan ini.
”Kami pernah coba mendamaikan, tetapi kedua kubu masih saling menyimpan dendam. Polisi hanya berupaya mengimbau agar pertikaian itu dihentikan,” ujar Kapolres Puncak Jaya AKB Alex Korwa.

Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Puncak Yunus Kelatbetme membenarkan bahwa bentrokan itu dipicu oleh rekomendasi Partai Gerindra kepada Elfis Tabuni dan Simon Alom, yang kemudian menjadi sebab pertikaian kedua kelompok pendukung.

Menakutkan

Insiden terkait Pilkada di Papua ini menjadi catatan hitam bagi anak bangsa ini. Bahwa di jaman demokrasi yang semakin modern, memberikan dukungan suara seakan tak cukup untuk mendukung seorang tokoh merebut kekuasaan. Tapi juga harus dengan nyawa.

Ilaga adalah daerah terpencil dan hanya dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi udara. Dari kejadian tersebut, maka semakin lengkaplah kerusuhan yang disebabkan karena pilkada. Kerawanan dalam sebuah pemilihan langsung tingkat kabupaten merupakan sesuatu yang sangat patut dipikirkan oleh para elit politik dan penyelenggara negara. Karena bupati adalah pejabat yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dan fanatisme kedaerahan atau suku dan asal calon merupakan potensi timbulnya kerusuhan.

Kita tidak bisa membiarkan terus rakyat “baku bunuh” hanya karena memilih pejabat setingkat bupati. Kerusuhan disatu daerah kemungkinan besar akan ditiru oleh daerah lainnya, khususnya oleh masyarakat yang berada di daerah dimana tingkat pendidikan dan pengetahuan politiknya masih rendah. Masyarakat nampaknya belum dapat dilepas dengan sistem demokrasi kebebasan seperti yang terjadi di Kabupaten Puncak tersebut.

Kalau tidak segera dipikirkan dan diputuskan, maka bangsa ini akan berubah menjadi bangsa yang menjadi seteru satu sama lainnya. Mau saling membunuh karena hal-hal yang sepele. Kasihan memang dan kita patut mengasihani bangsa ini.

Redaksi Zona Damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s