Zona Ekonomi

Ancaman 2012

Zona Damai : Perekonomian dunia dibayangi kemuraman. Ancaman bakal jatuhnya Eropa ke jurang resesi ditambah Amerika Serikat yang belum betul-betul pulih dari krisis ekonomi sejak 2008 berpotensi menyeret perekonomian dunia jeblok pada tahun depan.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menyatakan dunia tengah dihadapkan pada risiko memasuki dekade yang hilang, atau dekade dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah, bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali.

Untuk itu, setiap negara harus menyiapkan perisai untuk bertahan, termasuk Indonesia.

Akan tetapi, Indonesia bisa sedikit lega. Bank Indonesia (BI) memang telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan menjadi 6,5%. Angka itu lebih rendah ketimbang asumsi APBN 2012 yang mematok pertumbuhan 6,7%. Namun, revisi itu masih optimistis karena memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh, bahkan di atas 6% pada 2012.

Banyak kalangan memang meramal Indonesia mampu bertahan. Struktur perekonomian Indonesia yang memiliki permintaan domestik tinggi, terutama konsumsi rumah tangga, dinilai dapat meminimalkan dampak perlambatan ekonomi global.

Apalagi, ketergantungan perdagangan Indonesia pada negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat relatif kecil. Berbeda dengan negara yang bergantung pada ekspor, turunnya permintaan dunia bisa menghantam pertumbuhan mereka.

Akan tetapi, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang optimistis itu janganlah membuat bangsa ini lengah. Sebab, bukan tidak mungkin, negara-negara yang selama ini mengandalkan pertumbuhan dari ekspor ke Eropa dan Amerika mengalihkan barang mereka ke Indonesia.

Bukan perkara yang sulit untuk menguasai pasar Indonesia. Namun, masih berkutatnya produk lokal dalam persoalan biaya logistik dan modal yang tinggi membuat harganya tidak kompetitif. Padahal, harga yang murah adalah kekuatan produk impor.

Karena itu, sangatlah bijak kalau pemerintah segera menyiapkan benteng untuk melindungi produk lokal. Persiapkan infrastruktur, permudah akses pembiayaan bagi industri.

Pasar domestik Indonesia yang besar, yang selama ini terbukti ampuh menjadi tameng krisis, jangan dirajai barang impor. Itu sama dengan bunuh diri.

Di samping itu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, belanja pemerintah harus didorong agar memiliki penyerapan lebih baik dan tepat waktu. Dengan demikian belanja pemerintah bisa menjadi lokomotif pertumbuhan sejak awal tahun.

Pemerintah harus berani mengubah tradisi lelet merealisasikan belanja pada awal tahun dan kemudian memacunya tergopoh-gopoh pada akhir tahun. Seperti yang terjadi di tahun ini, tersisa waktu hanya dua bulan, tetapi belanja modal yang diharapkan memacu pertumbuhan baru terealisasi 40,7%, atau tidak sampai separuh dari total alokasi.

Hal itu membuat APBN melempem dan tidak berdaya pacu. Boro-boro menjadi bantalan krisis.

Patut diingat, krisis global kali ini bisa berlangsung lebih lama karena terjadi di banyak negara. Untuk itu, harus ada langkah konkret dan sistematis untuk mengantisipasinya. Bukan sekadar orasi. [ Media Indonesia ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s