Zona Berita

Komunitas Adat Suku Marind Papua, terancam Tergusur

MERAUKE-Zona Damai : Komunitas masyarakat adat di Papua dikhabarkan akan tergusur jika program lumbung pangan dan energi Merauke jadi dibangun. Proyek yang dekenal dengan nama Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) ini, menurut Perwakilan Sawit Watch Carlos Nainggolan, berada di 3 kampung yang sebagian besar masyarakatnya berasal dari suku Marind. Pekerjaan mereka adalah berburu dan meramu, bukan bertani.

Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial PBB, kata Carlos, sudah mengetahui hal tersebut. Komite telah mengirim surat ke pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan mengundang pelapor khusus PBB terkait soal ini. Untuk itu kata dia sejumlah LSM di Papua juga mendesak pemerintah Indonesia menghentikan proyek tersebut. Bila pembangunan itu dilanjutkan maka akan menggusur tanah masyarakat adat dan memicu membludaknya para pekerja dari luar.

“Seperti yang kita ketahui di sana 1,6 juta hektar yang angkanya terus fluktuatif dari 2,5 sampai yang terakhir dibilang 500 ribu hektar lebih. Dan ini yang kami yakin dan percaya situasi masyarakat adat yang ada di sana, orang Marind, itu akan semakin terpinggirkan, termarginalkan, yang sekarang mereka sudah terdegradasi ini akan makin terpinggirkan lag,” Tegas Carlos.

Sementara itu, LSM lingkungan Greenpeace mencatat hampir sembilan juta hektar hutan di Papua telah dialihfungsikan untuk kepentingan industri. Perwakilan Greenpeace Charles Tawaru mengatakan, sekitar 300 ribu hektar hutan hilang tiap tahunnya. Bahkan sekitar dua juta hektar lahan hutan dialihkan untuk program lumbung pangan dan energi Merauke.

“Hutan di Papua merupakan hutan di Indonesia yang tersisa. Dan yang penting untuk kita lindungi. Itu juga merupakan komitmen pemerintah, dalam hal ini pidato SBY bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen. Dan ini bagaimana pemerintah Provinsi Papua kita coba mengingatkan komitmennya tetap menjaga hutan Papua supaya ini begitu penting. Karena masyarakat adat Papua hidup bergantung dari hutan.”

Perwakilan Greenpeace Charles Tawaru menambahkan lahan hutan juga hilang karena dipakai untuk perkebunan kelapa sawit, perkebunan kayu, dan pertambangan.

Sikap Pemkab Merauke

Pemerintah Kabupaten Merauke, Papua, mulai menghentikan masuknya investasi di bidang perkebunan kelapa sawit. Meluasnya perkebunan sawit dikhawatirkan mengancam ketersediaan air di wilayah itu.

penyebaran komunitas suku Marind di Merauke

“Kita memahami Merauke ini dari aspek hidrologi hanya tergantung pada air hujan, air rawa, air tanah, tidak ada air yang mengalir dari gunung. Padahal, kelapa sawit ini butuh air banyak. Merauke pun bisa kering kerontang kalau terlalu banyak kelapa sawit,” kata Bupati Merauke Romanus Mbaraka, Rabu (12/10/2011) di Merauke.

Ia mengatakan, dampak pembukaan perkebunan sawit di Merauke akan dikaji dengan lebih baik khususnya pengaruhnya terhadap ketersediaan air tanah di Merauke. Berdasarkan kesesuaian ruang, perkebunan kelapa sawit diarahkan ke wilayah Merauke utara, yaitu di daerah hulu sungai. Namun bila itu diwujudkan, Merauke bisa jadi terancam kekeringan karena air sungai dari hulu tersedot kelapa sawit.

Berdasarkan data Pemkab Merauke, komoditas kelapa sawit dan tebu lebih diminati para investor Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) ketimbang tanaman pangan, seperti padi, jagung, kedelai. Dari 14 perusahaan yang mendapatkan izin lokasi pada tahap pertama pengembangan MIFEE, enam di antaranya akan membuka perkebunan sawit, 5 perusahaan perkebunan tebu, sisanya tanaman pangan.

Benja Victor Mambai, Direktur Program Papua World Wildlife Fund (WWF) Indonesia menuturkan, pembukaan perkebunan kepala sawit di Merauke harus dipertimbangkan kembali. Ini mengingat ketersediaan air di Merauke sangat bergantung pada kondisi hutan alam di bagian hulu.

“Sungai-sungai yang mengalir ke Meraue kan tidak berhulu di daerah pegunungan. Kalau hutan di atas (Merauke utara) dibuka untuk perkebunan sawit, air bisa habis,” katanya. (KBR68 H/Kompas.com).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s