Zona Berita

Pencaplokan Wilayah, Malaysia Jangan Ngotot

Zona Damai: – Malaysia kembali menjadi sorotan, terkait hubungan perbatasan dengan Indonesia. Sejak dua pekan lalu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyebutkan ada pencaplokan wilayah Kalbar oleh pemerintah Malaysia. Negeri Jiran bahkan sudah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan Camar Bulan, di antaranya menggerakkan pasukan Rela untuk menjaga wilayah perbatasan tersebut. Ini diperkuat dengan hasil investigasi dari Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin.
Selengkapnya demikian penjelasan TB Hasanuddin.

Bisa diceritakan hasil investigasi anda?

Jadi, kira-kira dua bulan yang lalu atau enam belas minggu yang lalu saya mendapat informasi, bahwa di sebuah wilayah yang sekarang ternyata diidentifikasi sebagai Dusun Camar Bulan, ada Polisi Diraja Malaysia yang patroli ke sana. Lalu bertemu sekelompok masyarakat yang sedang mencari kayu dan sebagainya, lalu terjadi dialog bahwa awak masuk ke daerah Malaysia, lalu mereka bilang tidak, ini daerah kami kami, sudah sekian turunan ada di sini, lalu terjadilah sedikit tegang. Polisi Diraja Malaysia kelihatannya tidak terlalu ngotot lalu mereka pulang, dari situ saya mencoba mengembangkan kemudian mencari informasi, mencari data, kemudian mencari file-file, dan melakukan investigasi ternyata benar apa yang terjadi apa yang ada di lapangan. Jadi kalau mengacu kepada seperti yang disampaikan oleh Gubernur Kalimantan Barat yang 1824 itu lalu lahirlah peta yang disebut peta Van Doorn buatan pemerintah Belanda itu tahun 1906. Jadi 75 tahun kemudian lahirlah dan itu disetujui menjadi sebuah peta yang resmi kerajaan Hindia-Belanda, kemudian juga lahirlah ada yang namanya Sambas Borneo, itu juga resmi diakui juga oleh pemerintahan kerajaan Inggris, kemudian kerajaan Inggris membuat peta Malaysia State tahun 1935. Jadi atas dasar itu sesungguhnya kalau mengacu pada peta induk, tidak ada masalah dan Malaysia mengakui. Tetapi timbul masalah ketika ada MOU tahun 1976 di Kinabalu, kemudian dilanjutkan tahun 1978 ada MOU di Semarang dan dari sana tidak ada lagi beritanya, kami yang waktu itu di pemerintahan tidak ada beritanya lebih lanjut jadi hilang begitu saja, tetapi kesini-sini ternyata ada patok-patok yang muncul, yang kemudian Malaysia mengklaim bahwa wilayah Camar Bulan itu menjadi wilayah Malaysia plus sebenarnya kalau mungkin ada bayangan sebenarnya garisnya lurus tetapi menjadi belok ke kiri kemudian ke kanan seperti tapal kuda mengambil masuk hampir 1.500 hektar, jadi melambung ke kiri kemudian lurus lagi itu di wilayah Camar Bulan.

Apa yang dilakukan oleh parlemen dan pemerintah terhadap hal ini?

Pertama, dari garis Camar Bulan itu lurus terus ke Tanjung Datuk, di Tanjung Datuk itu juga ada perbedaan titik atau tanda batas yang dibuat oleh Belanda zaman dulu. Sekarang ini di sana, ini masih status quo belum diratifikasi oleh kedua negara tetapi di sana misalnya ada proyek kura-kura punya Malaysia, kemudian juga ada Taman Negara dan itu didatangkan turis-turis internasional, hampir sama modus operandinya dengan ketika kita hilang Sipadan dan Ligitan.

Untuk hasil MOU tersebut menyatakan Camar Bulan sebagai wilayah Malaysia, ini bagaimana?

Kalau data-data di saya belum selesai dan pemerintah Malaysia belum boleh juga mendirikan dua buah mercusuar, pertama dibuat terus mati kemudian dibikin lagi. Seharusnya pemerintah Indonesia menyampaikan keberatan, karena masih status quo belum final. Saya sudah menyampaikan ke teman-teman di Komisi I untuk memperbincangkan ini dan hampir semua setuju.

Kapan kira-kira akan dibahas dengan Kementerian Luar Negeri?

Dalam waktu dekat akan segera dibahas, saya sudah berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri dan menurut beliau-beliau katanya itu juga melibatkan Departemen Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan dalam hal ini Dinas Topografi Angkatan Darat.

Untuk warga Indonesia yang tinggal di daerah tersebut apakah banyak?

Sekitar 720 orang.

Warga Malaysia?

Tidak ada.

Polisinya ada di sana?

Kalau polisi datang, sesudah tegang itu mereka pergi dan sebagainya.

Yang pasti tanda-tanda fisiknya banyak ya?

Iya. Saya ingin bertanya juga kepada pemerintah apakah sudah diratifikasi? lalu kapan itu dilaksanakan? ini harus jelas, jangan dengan gratis saja menyerahkan tanah kepada siapapun.

Apakah untuk Komisi Pertahanan ada cara yang bakal disarankan kepada pemerintah untuk menyelesaikan wilayah-wilayah perbatasan supaya tidak ada konflik lagi?

Sesungguhnya kami anggota DPR khususnya Komisi I, sudah meminta kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan titik-titik yang dianggap krusial untuk diselesaikan. Tetapi kadang-kadang dalam ketika melibatkan dua negara, negara itu sering mengulur-ulur lalu melihat situasi dalam negeri, lalu tergantung para pemimpin negara itu, jadi memang faktor X itu banyak sekali.

Kira-kira dari hasil kajian yang anda lakukan secara pribadi maupun dengan teman-teman di parlemen. Kira-kira jalan untuk menuju perundingan bakal alot atau tidak seperti proses Sipadan dan Ligitan?

Saya berharap Malaysia tidak perlu alot. Karena dulu juga menerima perjanjian ini, perjanjian Inggris dengan Belanda, sayapun juga punya data-data foto udara dari Kerajaan Malaysia.

Kekuatan kita seberapa besar jika kita di meja perundingan bisa mendapatkan Camar Bulan secara legal?

Menurut hemat saya asal diplomasi kita ulet dan bekerjasama, tidak ada masalah. Cuma masalahnya apakah patok-patok batu itu apakah dulu dengan persetujuan Border Comite dari Indonesia, kalau memang sudah disetujui itu agak berat. Tapi saya mencoba menanyakan ke ahli hukum internasional, kalau misalnya ada novum mungkin masih bisa, tapi kita akan bicara dengan para pakar-pakar hukum internasional, kemudian yang paham dengan masalah perbatasan, dan sebagainya.
[KBR 68H]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s