Zona Editorial

Mungkinkah Perdamaian Dunia Lahir dari Ambon ?

Monumen Gong Perdamaian di Kota Ambon

Zona Damai : Pertanyaan kritis ini tentu tidak mengada-ada, mengingat Ambon memiliki sejarah panjang terkait dengan kerusuhan massal dan konflik sosial termasuk di antaranya isu pendirian Republik Maluku Selatan (RMS). Sadar akan sejarah kelam itu, maka lahirlah komitmen hidup damai masyarakat Ambon yang terumuskan dalam perjanjian Malino 1 dan 2 serta dibangunnya Monumen Gong Perdamaian di Kota Ambon juga menjadi simbol bahwa antar kelompok masyarakat di Ambon telah “insyaf” bahwa DAMAI adalah prasyarat utama dan mutlak untuk melanggengkan kehidupan yang bermartabat.

Masih terkait perjalanan merajut kehidupan nan damai, awal bulan ini (1 Oktober 2011) ratusan pemuda dari berbagai belahan bumi, antara lain dari Belanda, Rusia, Nigeria, Somalia, Pakistan, India, dan Timor Leste berkumpul di Kota Ambon. Duta-duta perdamaian dunia itu berada di Ambon selama dua hari untuk menghadiri World Assembly of Youth.
Pada puncak acara, mereka mengelilingi Monumen Gong Perdamaian Dunia yang berdiri tegak di jantung Kota Ambon, mendeklarasikan tekad mereka untuk membangun dunia baru, dunia tanpa permusuhan, dunia penuh cinta. Deklarasi Perdamaian dunia yang dibacakan di depan monument Gong Perdamaian Dunia itu, berisikan lima poin :

1) Mengecam keras segala bentuk kekerasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di seluruh dunia
2) Menyerukan penghapusan segala bentuk diskriminasi yang terkait suku, agama, dan ras
3) Menyerukan untuk saling menghargai, menghormati, dan menyebarkan budaya dalam semua aspek kehidupan dalam mencegah dan menyelesaikan kekerasan dan konflik.
4) Menyerukan kepada pemerintah dan seluruh pemimpin dunia untuk serius dalam mencegah dan menyelesaikan segala bent uk kekerasan dan konflik melalui pendekatan keadilan, pendidikan, dan kesejahteraan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal setiap bangsa.
5) Berkomitmen untuk terlibat aktif menjadi pelopor dan pelaku dalam mewujudkan dunia yang penuh dengan damai, harmonis, dan cinta.

Usai deklarasi itu dibacakan, Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon melepas sejumlah burung merpati sebagai simbol perdamain.

Sebagai bangsa yang cinta damai, kita ambil hikmah dari momentum ini untuk membangun hidup baru di bumi pertiwi ini. Hidup berdampingan dengan sesama anak bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, budaya dan warna kulit.

Semoga isi deklarasi ini dapat mencerahkan kelompok-kelompok tertentu yang masih gemar menggunakan pedang, peluru bahkan bom kendatipun atas nama keadilan dan kebenaran yang dia sendiri tak benar-benar paham substansinya. Jangan ada lagi tangan-tangan jahil di belahan bumi manapun merusak keharmonisan hidup bangsa-bangsa, dengan menciptakan arena-arena “sumbu pendek”, karena peperangan, adu-domba dan kerusuhan massal tidak pernah menyelesaikan apapun.

*) Redaksi Zona Damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s