Zona Politik

Pasien Itu Bernama Pilkada 2011

oleh : Risman A Rachman
Atjeh Post.com : Prihatin. Itulah kata yang tepat untuk mengambarkan suasana hati terkait Pilkada 2011.

Siapa pun yang melihat Pilkada Aceh dengan serius tanpa tendensi politik pasti seperti mengintip seorang pasien yang sedang tergeletak di bilik rumah sakit.

Lebih tragis lagi, pasien bernama Pilkada 2011 sedang tidak jelas statusnya. Apakah pasien rawat jalan, pasien rawat inap, atau pasien rawat darurat. Tidak ada diagnosa pasti. Semua diagnosa yang ada saling bertentangan satu sama lain. Akibatnya, untuk menjadi pasien rujukan guna di bawa ke Jakarta pun tidak jelas apalagi hanya sekedar menjadi pasien JKA.

Akibat jadi pasien “ndak jelas” maka semua obat yang dicoba kasih jadi sia-sia alias tidak manjur. Akibatnya, si pasien masih saja tergeletak bak orang mati suri. Denyut jantung ada tapi tidak berfungsi anggota tubuh.

Anehnya, dalam keadaan si pasien sedang sakit, tidak ada diagnosis pasti, tidak ada tindakan medikal yang memadai, dan dalam keadaan mati suri ada juga yang ingin segera menggelar pesta demokrasi.

Maka wajar saja jika ada yang (akan) menyebut kalau ini bukan pesta demokrasi. Ini sebuah pesta ritual persembahan. Pasien Pilkada 2011 sepertinya berpotensi dijadikan media persembahan sebagai syarat kemenangan atau minimal untuk menyenangkan sang pemimpin.

Kalau sudah begitu, Pilkada Aceh 2011 bukan lagi sekedar konflik regulasi. Pilkada Aceh 2011 sudah jauh tercampak ke tradisi purba dimana untuk memilih, merawat, menjaga, dan mempertahankan kekuasaan selalu disertai sesajian, persembahan, korban.

Bukankah yang namanya pesta demokrasi mestinya dirayakan dengan semangat yang penuh kegembiraan terutama kegembiraan bagi rakyat? Tapi, lihatlah rencana gelar pesta demokrasi Aceh 2011 ini. Sebelum digelar saja sudah banyak korban berjatuhan. Mulai orang yang disangka menjadi korban akibat perseteruan Pilkada 2011 sampai dengan korban perasaan akibat marah dan berseteru. Bagaimana jika nanti pas saat gelar pesta dan usai pesta? Ah, berapa banyak yang akan menjadi korban? Manusiawikah merayakan kemenangan?

Tidak ada pilihan lain, jika kaedah hadih madja Aceh pun sudah tidak lagi menjadi inspirasi: “menyoe get ta peh ie joek jeut keu saka” atau “menyoe na pakat lampoeh jirat ta peugala” maka Presiden RI sebagai kepala pemerintahan perlu segera menggunakan wewenang, kewajiban dan haknya untuk mengatasi keadaan agar pesta demokrasi Aceh dapat terjamin terselenggara dengan demokratis, tidak hanya demokratis secara prosedural tapi juga secara substansial.

Namun begitu, sebelum Presiden RI menggunakan “pedang” kewenangan ada baiknya sekali lagi menggunakan “pedang” kebijaksanaannya minimal ditingkat fasilitasi atau mediasi yang langsung dipimpin oleh presiden. Maklumlah, orang Aceh sudah biasa menjadi ureung nomboi sa dan hanya mau difasilitasi juga oleh ureung nomboi sa.

Semoga semuanya menemukan jalan keluar dengan hati bening. Amin

penulis : Pemerhati sosial-politik, tinggal di Banda Aceh

Categories: Zona Politik

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s