Zona Berita

Senjata Api Ilegal Marak di Aceh

Kompas.com: Masih adanya senjata api eks konflik di tangan warga sipil di Aceh memicu kian maraknya aksi kriminalitas bersenjata di provinsi tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Terbukanya jalur perairan Aceh yang rawan dimanfaatkan untuk keluar dan masuknya senjata api dan narkoba kian menambah kerawanan tersebut.

”Sebenarnya sudah banyak senjata yang diserahkan secara sukarela oleh masyarakat kepada polisi atau TNI, tapi masih banyak pula yang beredar. Ini yang tak kita ketahui pasti. Senjata eks konflik yang masih beredar inilah yang kini digunakan orang-orang tak bertanggung jawab untuk bertindak kriminal di Aceh,” kata Kepala Kepolisian Daerah Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan, Selasa (27/9).

Selama Januari-pertengahan September 2011, ada 37 pucuk senjata api organik (dari kesatuan TNI/Polri) yang diserahkan pada aparat kepolisian. Selain itu, ada sekitar 100 pucuk senjata api non-organik eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari berbagai jenis.

Secara keseluruhan ada 600 senjata api yang sudah diserahkan secara sukarela, dari sekitar 830 pucuk senjata api eks GAM yang harus dimusnahkan sesuai kesepakatan dalam Nota Kesepahaman (MOU) Helsinki 2005.

Namun, diperkirakan ribuan senjata api ilegal beredar di luar yang diakui dalam MOU Helsinki. Senjata itu terdiri dari jenis AK 47, AK 56, M16, dan senjata organik yang dirampas dalam masa konflik.

Naik lima persen

Direktur Reserse Kriminal Polda Aceh Komisaris Besar Dedi Susetyo mengatakan, aksi perampokan atau pencurian dengan kekerasan di Aceh hampir semua bersenjata api. Jenis kejahatan ini naik sekitar lima persen dari tahun 2010. Mudahnya mendapatkan senjata api dan tekanan ekonomi masyarakat, serta keterbatasan keterampilan sosial ekonomi warga eks kombatan, membuat mereka mudah terjerumus dalam kejahatan semacam ini.

”Saya kira ini harus jadi perhatian bersama. Selain penarikan kembali senjata, pemerintah juga perlu untuk pemberdayaan sosial ekonomi sehingga mereka tidak menjadi pelaku kriminal. Sebagai contoh, pelaku perompakan kapal asing bersenjata api dari Peurlak, Aceh Timur. Mereka iniperlu dibina,” kata dia.

Tahun 2009 terjadi 11 kali kasus kriminal bersenjata api di Aceh. Tahun 2010, jumlah kekerasan itu mencapai 15 kali. Ini belum termasuk penggunaan senjata api oleh jaringan teroris yang diduga dipasok dari Aceh, yang terungkap pada tahun itu.

Tahun 2011 juga terjadi kekerasan bersenjata yang bernuansa pembunuhan, percobaan pembunuhan, dan teror, di luar perampokan. Penembakan mantan tokoh GAM dari Bireuen, Saiful Cage, penembakan mobil Bupati Bener Meriah, dan penembakan mobil tim survei migas di Lhokseumawe adalah contohnya.

”Namun, sejauh ini kami belum melihat ada motif lain selain kriminal murni. Kekerasan bersenjata api masih kriminal murni, tak ada kaitannya dengan politik meskipun saat ini kondisi politik di Aceh meningkat jelang pilkada. Kami bersama TNI bahu-membahu menarik kembali senjata ini. Masyarakat juga kami imbau sukarela menyerahkan senjata api,” kata Iskandar.

Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Hanif Asmara mengatakan, masalah kepemilikan senjata api tak masuk dalam skema kegiatan badan reintegrasi Aceh. Terkait upaya rekonsiliasi pascakonflik, BRA hanya menangani poin ketiga dari MOU Helsinki, yaitu penanganan bantuan untuk eks kombatan dan korban konflik. (HAN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s