Zona Berita

Penarikan Senjata Api di Aceh Ditingkatkan


KOMPAS.com —: Aparat keamanan akan meningkatkan razia dan upaya paksa menarik senjata api yang saat ini masih banyak beredar di Aceh.

Keberadaraan senjata itu mendorong peningkatan tindak kriminal bersenjata dan rawan mengancam stabilitas politik di Aceh yang kini kian memanas.

”Hari Rabu (28/9/2011) ini kami sudah bertemu dengan Kepala Polda Aceh dan sepakat untuk meningkatkan razia dan upaya hukum menarik senjata-senjata api yang masih beredar. Kami akan bekerja sama dalam penarikan senjata ini,” ujar Ketua Forum Komunikasi dan Koordinasi (FKK) Desk Aceh Mayor Jenderal Amiruddin Usman di Banda Aceh.

Keberadaan senjata api sisa konflik di Aceh saat ini, lanjut Amiruddin, sangat merugikan keamanan sosial politik di Aceh.

Dampak yang paling dikhawatirkan adalah terganggunya kebebasan berdemokrasi dan mengeluarkan pendapat dalam proses politik. Apalagi saat ini Aceh menjelang pelaksanaan pilkada untuk memilih 17 bupati dan wali kota, serta gubernur dan wakil gubernur.

”Sekarang politik di Aceh sedang memanas. Ketegangan politik di tingkat elite cukup tinggi. Karena itu, sangat rawan apabila berimbas kepada kehidupan masyarakat bawah. Perdamaian akan makin terancam apabila senjata-senjata api yang ada digunakan oleh orang tak bertanggung jawab,” kata Amiruddin.

”Kegiatan razia akan dilakukan dalam waktu dekat. Upaya paksa melalui jalur hukum akan dilakukan terhadap siapa saja yang terbukti memiliki senjata secara ilegal. Setiap orang wajib menyerahkan senjata api ilegal itu,” tambah Amiruddin..

Menurut dia, jumlah senjata api sisa konflik yang pernah dan masih ada di Aceh jauh di atas jumlah yang pernah disepakati dalam nota kesepahaman (MOU) Helsinki 2005 sebanyak 840 pucuk senjata api.

Saat itu jumlah senjata api yang dimiliki Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diasumsikan sepertiga dari jumlah pasukan yang dilaporkan perwakilan GAM yang hanya sekitar 3.000 personel.

Padahal, saat ini ada klaim dari pihak mantan GAM yang menyebut jumlah mereka mencapai 15.000 orang. Artinya, kalau sepertiganya saja sudah mencapai 5.000 pucuk senjata.

”Bila itu benar, jumlah senjata api yang masih beredar di Aceh jauh lebih banyak dari yang sudah diamankan, yaitu 840 pucuk senjata api,” katanya.

Jumlah itu belum termasuk senjata api yang sudah dimodifikasi dan rakitan. Belum lagi senjata api nonpabrikan.

Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Hanif Asmara mengatakan, saat ini BRA masih terus berupaya menjalankan program reintegrasi, khususnya terhadap para mantan eks-kombatan dan korban konflik. Hal ini sebagai bagian untuk rekonsiliasi damai di Aceh pascakonflik.

”Saat ini kami masih terus mengupayakan bantuan untuk rumah, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi bagi korban konflik dan mantan kombatan. Di samping itu, kami terus berupaya menginisiasi hadirnya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi seperti diamanatkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh dan MOU Helsinki,””ujar Hanif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s