Zona Berita

Teuku Kemal Fasya: Perilaku Elite Timbulkan Apatisme Rakyat

Harian Aceh.com : Pengamat politik dari Universitas Malikussaleh Teuku Kemal Fasya mengatakan perilaku koruptif dan hedonis elite politik di Aceh selama ini telah membuat masyarakat kehilangan harapan pada Pemilukada.

“Masyarakat luas saat ini semakin tidak menganggap penting siapa yang menjadi gubernur/bupati/wali kota, karena pengalaman lima tahun terakhir Aceh tidak kunjung mencapai kesejahteraan seperti yang dijanjikan,” kata Teuku Kemal Fasya kepada wartawan, Kamis (22/9).

Kemal Fasya menilai sebagian besar rakyat Aceh semakin tidak menyukai calon yang didukung kekuatan politik terutama yang suka pamer kekuasaan dan tidak beretika. Saat ini, kata Kemal, apatisme masyarakat luas mulai muncul karena sudah bosan dengan perseturan kepentingan para elite mengulur-ulur jadwal tahapan Pemilukada. “Situasi ini berpotensi mengarah pada anti-pati,” katanya.

Menurut Kemal, penting bagi publik agar lebih fokus mengontrol elite. Sebab situasi kacau selama ini menunjukkan rakyat kurang intensif berpartisipasi untuk mengingatkan elite. Kalau tidak ada pengawasan dan peringatan dari elemen masyarakat, dikhawatirkan sikap keras kepala dan suka mengintervensi seperti ditunjukkan para elite selama ini akan berketerusan menjadi tradisi berpemerintahan yang buruk.

Jangan sampai, Kemal melanjutkan, kasus Pilkada di Papua Barat yang menghabiskan biasa besar, terjadi konflik dan menimbulkan korban nyawa, terulang di Aceh. Kalau itu yang terjadi nantinya, kata dia, maka elite-elite politik dan partai harus menanggung dosa politik kolektif.

Mengenai sikap Panitia Khusus DPRA mengusulkan pembekuan KIP, Kemal menyatakan, kalau DPRA melakukan itu sama saja melanggar kostitusi. Sebab, KIP merupakan lembaga negara otonom yang tidak boleh diintervensi lembaga lain. Kemal memperoleh informasi bahwa selama ini KIP sering bekerja di bawah tekanan.

“Seharusnya ada tata krama hubungan antar-lembaga dan pemerintah yang harus dijaga dengan baik. Intervensi, intimidasi, dan provokasi bukan bagian dari logika hubungan antar-lembaga negara,” kata peneliti pada Aceh Institute ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s