Zona Humaniora

Papua New Guine: Hilangnya Firdaus di Dunia

Kisah seorang sahabat yang bekerja di Papua New Guinea

Oleh : Fajar

Zona Damai : Coelum paradisum meum est. Ya, surga adalah firdausku. Tapi, apakah ada surga di dunia? Orang beriman berkata, “tentu saja.” Orang yang sedang berbahagia berkata, “oh, surgaku sekarang hadir nyata.” Orang yang ‘fly’ merasa dia seperti sudah berada di surga. Namun, apa yang terjadi bila surga itu hanya sebatas mimpi? Atau, apa yang dapat kita katakan ketika ada orang yang merasa sedang hidup di surga padahal mereka ada di dunia? “Are we in paradise? No. It is not paradise. You are dreaming in the earth. We are not in paradise. It is the world where we are living in.”

Itu adalah penggalan refleksi yang aku sampaikan pada umat di beberapa local villages beberapa saat lalu. Hatiku tergugah oleh perasaan gelisah. Mereka merasa masih hidup di firdaus bersama dengan paradise birds yang kini tak ada lagi. Paradise bird atau burung cendrawasih memang indah. Mereka hanya ada di belantara Papua saja. Tapi kini nyaris punah. Mereka sudah pergi tak tahu kemana. Mereka terusir oleh hiruk-pikuk mesin pembabat hutan. Mereka lari karena silau melihat emas yang dibedah keluar dari perut alamnya. Mereka mabuk karena menghisap gas dan minyak bumi yang dieksplorasi oleh manusia yang asing di mata mereka. Burung-burung itu mengerti. Mereka tahu hidupnya terancam lalu pergi. Namun tidak demikian dengan manusianya. Mereka masih bermimpi. Atau lebih tepatnya dibiarkan tetap bermimpi. Atau kasarannya, mereka dibius biar tetap bermimpi sepanjang masa. What are you doing every day? Mereka sendiri menjawab seraya bergurau: “smoking sigarette, chewing buai, slip, kirap, kaikai na raun-raun. Em tasol.”

Sebetulnya dunia mereka sudah jauh berubah. Tapi mentalitas dan cara pandang masih saja lama dan jauh tertinggal di belakang. Lompatan teknologi, perkembangan dan kemajuan dunia tak bisa mereka ikuti. Bicara di ponsel seperti teriak di tengah hutan belantara. Makan sagu, tapi minumnya Beer, Sprite, Coca cola dan Fanta. Duduk misa di gereja, tapi mulut mengunyah sirih dan pinang juga. Rumah reot beratapkan daun sagu, tapi dindingnya dengan seng yang terasa panas membara. Orang yang sudah sekolah kembali ke rumah dan hidup seperti tak pernah mendapatkan pendidikan saja. Tak ada jam kerja. Tak ada pembagian waktu. Jika butuh makan, mereka masuk hutan. Meramah sagu beberapa hari lalu kembali ke kampung dan menikmati hasilnya. Ketika perlu ikan, mereka ‘lempar’ pukat di danau dan sungai. Esok harinya sudah banyak ikan yang mereka dapat. Beberapa dari mereka punya kebun karet, tapi banyak yang tidak disadap. Mereka hanya akan menorehnya apabila sudah kepepet dan perlu uang dengan segera.

Lain lagi dengan mereka yang punya tanah. Namanya tuan tanah, landowner atau papa graun. Mereka menikmati kemewahan dari uang kompensasi atas tanah yang dipakai oleh aneka perusahaan. Tapi bukan kemewahan yang terorganisir dengan rapi. Melainkan hanya untuk foya-foya dan hura-hura saja. Mereka bisa makan tanpa punya usaha. Ada listrik di rumah tanpa berpikir harus membayar berapa. Sebab setiap bulan mereka mendapat uang dari perusahaan yang memakai tanah mereka. Mereka hanya melihat orang asing datang dan pergi. Mereka membawa hasil bumi yang bukan dari tanah mereka sendiri. Yang menderita adalah orang biasa. Para pengungsi misalnya. Mereka menderita akibat kerusakan alam. Mereka susah mencari sagu karena mati akibat limbah yang hanyut di sepanjang sungai. Ikan di sungai sudah tak ada lagi karena mati akibat konsentrasi logam berat. Sedimentasi mengakibatkan air meluap di kala hujan dan merusak apa saja di sekitarnya.

Meski semuanya terjadi begitu rupa, tak banyak orang yang menyadarinya. Yang mereka tahu bahwa ikan mulai susah didapat. Air sudah tidak lagi jernih. Sagu semakin layu dan tak lagi subur seperti dulu. Untuk itu semua mereka tidak bisa berpikir tentang apa yang perlu dibuat. Mereka tetap bisa menikmati dunia yang rusak. Mereka tetap merasa bahwa mereka berada di surga. Menikmati hidup apa adanya dan mengalir begitu saja. Yang penting buah pinang masih ada dan jadi menu utama di setiap saat mereka bercengkerama dengan sesamanya. Tentu sebuah situasi yang berat bagi Gereja. Di tengah tugasnya mewartakan iman, ia tak bisa lepas dari urusan perut dan kemajuan jaman. Tak mudah menyadarkan mereka bahwa ini adalah dunia yang perlu kerja keras dan usaha pula. Paradisum itu telah berlalu. Dunia terus-menerus membaharui dirinya. Kita tak mungkin tetap tinggal dalam keadaan, pikiran, tindakan dan pola hidup yang tetap sama. Sebab anggur baru harus dimasukkan dalam kantong yang baru pula. Dengan demikian, akan terpeliharalah kedua-duanya (bdk. Mat 9:17). [ Kompassiana.com ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s