Zona Humaniora

Agama Adalah Solusi Perbedaan dan Konflik

oleh : Muhammad Nazar *)

Harian Aceh.com : Islam adalah jalan suci dari Allah untuk membentuk manusia dan umat yang benar, selamat, damai dan sejahtera. Islam dan agama apa pun tidak akan bermanfaat jika hanya diperlakukan sebagai kebanggaan geneologis (karena keturunan), administratif dan teoritis saja.

Islam sebagaimana aslinya adalah mesti membawa rahmat atau manfaat bagi siapa saja. Karena itu Islam dengan segala kesempurnaannya haruslah dijadikan sebagai mesin dan pengendali kehidupan serta pencipta peradaban. Jangan sampai Islam seperti pisau yang disimpan dan hanya digunakan secara temporal atau kondisional.

Apabila hal ini terjadi maka umat Islam selalu tumpul, tidak mampu membangun peradaban dan mewarnai kehidupan secara benar– sebaliknya akan ada umat yang tergilas bahkan cenderung destruktif, selain terus menerus bergantung pada pihak lain meski negeri-negeri muslim kaya dengan sumberdaya alamnya.

Kekuatan doktrin dan nilai Islam sesungguhnya mampu menggerakkan apapun untuk kebaikan manusia. Kalau agama berjalan baik maka negarapun tidak terlalu kesulitan mengurus warga dan bangsa, termasuk mengurus perbedaan.Karena Islam juga menghargai perbedaan pandangan dengan catatan tetap bersatu pada tataran teologis (ketauhidan) dan aturan syariat yang sudah menjadi pokok (qath-i).

Islam sangat agung, jangan dikerdilkan. Masalah politik sekalipun sudah ada doktrin dalam Al-Qur’an, hadis, ijmak dan qias. Urusan di dunia seperti demokrasi atau kekhalifahan dan pembangunan adalah urusan manusia yang tidak boleh dilepaskan dari pengendalian agama.

Islam tidak boleh kalah dari politik atau demokrasi. Ketika Islam dipaksakan harus kalah ketika itu pula dapat terjadi kekerasan terhadap agama dan umat, selain terhadap demokrasi itu sendiri. Sebab, nafsu dan gairah politik yang tidak sehat akan menghilangkan ketakwaan, keimanan dan kesalehan. Terlebih lagi jika pelaku demokrasi sudah tidak punya ketaqwaan, keimanan dan kesalehan dari awal dalam dirinya, maka keadaan akan semakin parah. Lalu agama atau umat yang menyampaikan agamapun bisa menjadi sasaran nafsu yang tak terkendali karena ambisi ingin menang dan tidak mau tahu dengan urusan sakralitas agama.

Demikian pula perbedaan akan menjadi permusuhan, perdamaian akan sia-sia walaupun sebelumnya diraih dengan harga mahal. Karakter manusia dan umat seperti ini lengkap dengan solusinya telah diingatkan dalam Ql Qur’an secara tegas dalam surat Ali Imran ayat 102 – 105. Bahkan ratusan ayat lainnya menerangkan hal yang sama dengan gaya bahasa alqur’an yang indah dan beragam supaya terhujam dalam diri umat. Hadis rasulullah, perjalanannya, para sahabatnya hingga tokoh-tokoh besar dunia juga memberikan nilai yang hampir sama.

Perbedaan dan konflik memang selalu ada di bumi ini, tetapi agama selalu siap pula menjadi solusi. Dalam perjalanan Aceh sendiri dari masa ke masa, sebenarnya konflik lebih banyak dari masa-masa damai.

Bahkan masa-masa damaipun tidak terisi dan terjabarkan secara sempurna. Ada saja benih-benih permusuhan yang lahir karena keterbatasan pemahaman agama, ketiadaan iman dan taqwa serta langkanya kesalehan individual dan sosial, terutama di zaman ini. Kapasitas politik dan demokrasi selaku urusan di duniapun amat sangat terbatas sehingga pelakunya cenderung memberikan respon secara destruktif terhadap siapa saja yang dinilai berbeda, dan bahkan merusak sakralitas agama seperti tragedi penganiaan ulama dan khatib di Mesjid Raya Keumala Pidie Jumat lalu.

Apapun alasannya menurunkan apalagi menyiksa khatib di atas mimbar hingga berlumuran darah tetap bertentangan dengan hukum agama dan hukum negara. Malah adat Aceh sendiri dan hak asasi manusia terlanggar juga.

Dulu orang-orang yang sedang berkelahi di Aceh segera aman ketika lari ke mesjid atau masuk mesjid. Kalau dikaitkan penyiksaan itu dengan alasan politik justru semakin parah karena melanggar HAM dan berpotensi adanya pengorganisiran khusus dan sistimatis sebelumnya untuk mengorbankan sang khatib yang sedang memimpin jamaah jumat dalam penyembahan kepada Allah.

Seperti diketahui khutbah jumat adalah rukun jumat yang tidak boleh dihilangkan dan sama dengan pengganti dua rakaat shalat dhuhur untuk memenuhi kewajiban empat rakaat seperti shalat dhuhur. Lebih khusus lagi, shalat jumat memang sengaja diwajibkan kepada orang-orang muslim yang beriman hanya seminggu sekali, sekaligus sebagai instrumen agama untuk membangun perdamaian serta mendengarkan nasehat-nasehat.

Sangat ironis memang dan telah menyentakkan dunia dengan peristiwa pertama di dunia itu, bukan sekedar langka. Dalam perspektif apapun, tragedi Keumala tersebut tidak dapat didiamkan. Jika pengrusakan sakralitas agama ini sempat didiamkan, maka kita bisa berdosa secara kolektif dan mungkin akan lebih berat lagi teguran Allah yang kita alami.

Apalagi peristiwa tersebut bukan pula hal yang biasa di dunia dan agama manapun. Ini pertama terjadi di dunia. Jangan sampai kita di Aceh yang sudah menjadi model perdamaian dan berkemungkinan menjadi model demokrasi karena kehadiran parlok, jalur independen pertama di Indonesia dan lain-lain justru akan sirna karena kita juga telah menjadi model pertama kejahatan terhadap agama. Padahal semua kita adalah muslim.

Agaknya, seluruh kaum muslimin muslimat di Aceh harus segera introspeksi dan membangun masa depan sebagai sejarah yang berkeemasan serta cemerlang. Sedangkan masa lalu adalah nilai, guru, pengalaman dan cermin. Masa lalu yang pernah berkeemasan di Aceh hanya sedikit saja dan lebih banyak masa suramnya. Karenanya pula masa lalu itu tidak perlu menjadi romantisme dan trauma, tetapi jadikan saja sebagai energi positif dan kolektif untuk masa depan seperti diajarkan dalam alqur’an.

Mari kita bangun ketaqwaan, keimanan, kesalehan dan sumberdaya manusia sebagai modal utama perobahan. Modal utama inilah yang mampu menaikkan derjat atau martabat Aceh, menyelamatkan dan mensejahterakan. Serta menjadi modal dalam merespon perbedaan supaya membawa rahmat. Jangan lagi biasakan diri menyalahkan orang lain.

Lihat dan bina anak, warga dan penduduk masing-masing, jangan justru menjadi parah dan manja ketika dana pemerintah tersedia untuk itu seperti dalam hal pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Pemerintah wajib menjadi khalifah yang bertanggungjawab tetapi bukan berarti para orang tua selaku kepala keluarga dan pimpinan masyarakat lainnya sudah terlepas dari tanggungjawab.

Inilah solusi-solusi yang diberikan Islam, jangan sampai kita lalai dan terjebak dengan cara-cara yang orang kafir sekalipun tidak melakukannya. Cukup sekali saja peristiwa tragis terhadap agama.

Di Palestina saja tentara Israel tidak melakukan seperti itu. Demikian pula dalam perjalanan sejarah Rasulullah SAW, kafir quraisy juga tidak pernah melakukan seperti itu. Mari kita semua bertaubat. Para pelaku kekerasan terhadap khatib dan sakralitas khutbah jumat itu tidak perlu malu mengakui salah dan dosa supaya kita semua kembali kepada Allah dalam keadaan diampuni serta Aceh terhindar dari teguran berat Allah di masa akan datang.

*) Penulis: Muhammad Nazar adalah Wakil Gubernur Aceh


Categories: Zona Humaniora

Tagged as: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s