Zona Humaniora

Serambi Vatikan

Oleh : Risman A. Rahman

Atjeh Post.com : Seorang Sufi Aceh bernama Teungku Malek Daud mengundang jurnalis mendatangi rumahnya dan kepada tim redaksi salah satu media lokal ia manyampaikan usulan:

“Saya punya  usul mau menjadikan Aceh sebagai Serambi Vatikan.”

Awak tim redaksi yang hadir tentu saja sangat terkejut dengan wacana yang baru saja di dengar. Bagaimana mungkin Aceh yang dikenal Serambi Mekkah diganti jadi Serambi Vatikan?! Benar dulu, pada masa konflik, Anthony Reid pernah menyebut tentang Verandah of Violence. Tapi, untuk menjadikan Aceh sebagai Serambi Vatikan? Apa dasarnya?

Pimpinan redaksi yang diliputi kebingungan akhirnya hanya bisa diam. Sesekali ia mencoba mencari tahu apa latar sang sufi mau menjadikan Aceh sebagai Serambi Vatikan. Tapi, semakin dipikir justru semakin membingungkan. Karena itu, ia memutuskan untuk bertanya saja:

“Maaf, Teungku. Apa tidak salah jika Aceh dijadikan Serambi Vatikan?! Aceh kan daerah dengan mayoritas Islam dan sejak awal sudah Islam!”

“Siapa bilang Aceh sejak awal berpenduduk Islam? Apa Islam agama pertama di dunia?!”

“Maksud saya..”

“Pokoknya, saya punya usul mau menjadikan Aceh juga sebagai Serambi Vatikan.”

Esoknya, Aceh ribut. Warta media dengan judul “Aceh Bersiap Jadi Serambi Vatikan” menyulut demontrasi besar-besaran dan menuntut polisi untuk menangkap sang sufi yang sudah dianggap murtad.

Berbagai petinggi Aceh juga ikut marah. Kepada petugas diperintahkan untuk membawa sang sufi ke rumah megah salah seorang pejabat sebelum diusut dan dikenai pasal memprovokasi dan melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Maka terjadilah dialog, yang juga disaksikan oleh perwakilan pendemo:

“Mengapa Teungku menginginkan Aceh jadi Serambi Vatikan? Apa Teungku tidak memikirkan dampaknya. Lihat, semua rakyat Aceh marah dan berbagai pihak kelabakan mengurusi demo.”

“Ketika saya mengatakan yang menurut kalian salah maka kalian berlomba-lomba menghukum saya seakan-akan kalian tidak pernah berbuat salah. Padahal saya baru “memberi usul” saja. Tapi, ketika kalian berbuat yang menurut saya salah kalian berlomba-lomba membela diri. Seakan-akan kalian malaikat yang tidak pernah salah.”

“Di tangan kalian sudah ada aturan yang kalian bertaruh nyawa untuk menghasilkannya. Tapi kalian ternyata tidak cukup percaya dengan apa yang kalian punya hingga kalian mengkutak-atiknya, atas nama demokrasi dan hak asasi. Padahal belum lagi kalian jalankan kewajiban  terhadap demokrasi dan hak yang dulu kalian perjuangkan. Tapi kenapa tetap saja kalian langgar? Kalian mengaku bangsa mulia tapi kemulian baru kalian akui hanya jika menguntungkan kalian. Jika tidak maka kalian menjadikannya seperti raja tanpa wewenang.”

“Kalian selalu mengatakan Tuhan cinta damai dan mereka yang tidak bisa berdamai tidak beriman walau beragama. Dan kalianpun bersiap diri menjadi Tentara Tuhan seakan kalianlah patriot sejati. Tapi ketika kalian membaca ayat-ayat Tuhan tentang kemanusiaan dan kepedulian kalian mengabaikannya dan menyerahkan mereka kepada kebajikan dan kasih sayang Tuhan. Lebih kasihan lagi, kalian dengan penuh semangat mengejar si pendosa yang menjalani hidup tanpa bimbingan orang-orang pintar di antara kalian. Lalu, dengan bangga kalian serahkan mereka kepada penegak hukum. Tapi, mereka yang memakan “bangkai saudaranya” (korupsi)” kalian elu-elukan untuk menjadi pemimpin. “

Suasana diam dan kesunyian menyergap ruangan rumah yang sejuk sampai kemudian suara Teungku terdengar lagi:

“Ini dua tanganku. Tangkaplah. Kalian bisa memenjarakan aku. Tapi, suara kasih sayang semua hamba Tuhan tidak bisa kalian penjara, selamanya.”

Tak ada yang bergerak untuk menyodorkan borgol. Sebagai ganti, semua mengulurkan tangan untuk bersaleuman.

Categories: Zona Humaniora

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s