Zona Sejarah

Raja Rumagesan dari Fakfak

Sejarah mencatat, banyak putra Irian Jaya/Papua yang sejak perang kemerdekaan 1945 sudah berjuang membela Republik Indonesia melawan Belanda. Salah satunya adalah Raja Rumagesan dari Fakfak.

Sudah pernah dengar daerah di Papua yang bernama Kokas ? Kokas adalah sebuah distrik di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Di Kokas juga terdapat masjid tertua di Kabupaten Fakfak, tepatnya di Kampung Patimburak, yang berusia lebih dari 200 tahun. Disinilah tempat tinggal Raja Rumagesan bersama rakyatnya yang mayoritas muslim. Pada 1 Maret 1948, ia memerintahkan agar semua bendera Belanda diturunkan. Akibatnya, terjadilah pertempuran. Ia sendiri langsung turun memimpin rakyatnya melawan tentara Belanda. Raja Rumagesanpun ditangkap dan dibuang ke Sorong. Di Sorong, ia mengorganisir pengikut-pengikutnya untuk melakukan pemberontakan.Tetapi rencana aksi itu diketahui Belanda, akhirnya ia diasingkan ke Manokwari.

Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fak-fak adalah mesjid tertua yang merupakan lambang keberadaan Islam sejak 1700 tahun yang lalu

Di Manokwari, Raja Rumagesan berhasil mempengaruhi pemuda-pemuda Papua agar tidak masuk tentara Belanda, tetapi tindakan Rumagesan diketahui Belanda, sehingga dia dan pengikut-pengikutnya ditangkap dan dikirim ke Holandia (Jayapura). Rumagesan dijatuhi hukuman mati, namun berkat permintaan rakyatnya, Belanda mengubah hukuman mati terhadap Raja Rumagesan menjadi hukuman seumur hidup. Atas usaha Kolonel A.H. Nasution, Rumagesan dideportasi ke Makassar, dan dari situ Raja Rumagesan dibebaskan oleh Pemerintah Indonesia.

Kota Manokwari

Pada saat menjelang perjuangan Trikora (Tri Komando Rakyat) dalam pembebasan Irian Barat terdapat tokoh-tokoh putra Irian/Papua dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat dan GRIB (Gerilya Rakyat Irian Barat) yang dipimpin Mayor Dimara. Tokoh mudanya antara lain Moses Weror. Mayor Dimara terlebih dulu sudah mendarat di Irian Barat yang ketika itu masih diduduki Belanda, mengkoordinir anak-anak buah melawan Belanda di Sorong. Sedang putra Irian Letnan Antaribaha memimpin 29 orang pasukan gerilya (PG-100) menyusup ke Kaimana (Teluk Etna). Banyak sekali pemuda Papua saat itu yang sudah bergabung kedalam TNI, ikut bertempur memadamkan pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah, serta turut pula dalam operasiTrikora. Mereka antar lain A.B. Kaaruhuy, A.L.Maranni, N.L. Suages, Lt. Antaribaha, Lt. Ramandey, H.L. Rumaseuw, A.T.Koromath, Lt. Wanggai, Lt. Numberi (Paman mantan Gubernur Irian Jaya/ Menteri Perhubungan sekarang Freddy Numberi) dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Mereka bergabung dalam Batalion Cenderawasih yang bermarkas di asrama Kara Katintang di Surabaya.

Di samping operasi militer, putra Papua juga aktif dalam diplomasi membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. FRITZ KIRIHEO seorang mahasiswa pejuang yang tidak pernah memikirkan diri sendiri. Mahasiswa di negeri Belanda itu, yang karena cinta kepada Indonesia kemudian kembali ke tanah air untuk membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda. Dengan meninggalkan kuliahnya, ia ikut dalam delegasi Indonesia ke PBB memperjuangkan pembebasan Irian Barat bersama Mayor Dimara. Sebelum Pepera tahun 1969, Fritz Kiriheo pernah menjadi Direktur PD Irian Bhakti.

Dari catatan ringkas di atas, kita dapat melihat begitu banyaknya putra Papua yang telah berjuang menyabung nyawa membela keutuhan tanah air Indonesia sejak awal perang kemerdekaan 1945 sampai dengan operasi Trikora, operasi Pepera, maupun di bidang diplomasi membawa Irian Barat ke pangkuan RI, hingga saat ini. Mengingat begitu besar pengorbanan yang diberikan oleh putra-putra terbaik Papua ini, adalah sepatutnya kita terus melanjutkan perjuangan mereka itu untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan di bumi Papua.

Perjuangan yang dilakukan dengan semangat dan keikhlasan rela berkorban demi bangsa dan Negara ini merupakan wujud asli sikap dan perilaku generasi Papua yang berjuang tanpa pamrih semata-mata demi keluarga besar Indonesia bersatu yang maju, sejahtera aman dan damai serta semakin cerdasnya putra putri Papua sehingga menjadi tauladan dunia.

Jadi, benar kata-kata Bung Karno (Presiden pertama RI) dalam Pidatonya di Kotabaru (sekarang Jayapura) pada 4 Mei 1963, bahwa tanpa perjuangan Rakyat Irian Barat, wilayah Irian Barat tidak mungkin bisa bergabung kembali ke dalam Wilayah Kekuasaan RI. Berikut petikannya.

“…Dan saya mengucap banyak terima kasih kepada rakyat Irian Barat. Bukan saja kepada rakyat daerah Indonesia yang lain-lain, tetapi juga rakyat Irian Barat, yang sudah memperjuangkan dengan hasil baik, agar supaya Irian Barat itu masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik….Jikalau Irian Barat sejak tanggal 1 Mei yang lalu, 3 hari yang lalu telah masuk ke dalam wilayah Republik, itupun adalah hasil daripada perjuangan rakyat. Dan terutama sekali hasil daripada rakyat Indonesia di Irian Barat pula”.

Categories: Zona Sejarah

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s