Zona Politik

New Deal for Papua

Oleh : Ir. Sarjito

Kompassiana.com :  “… Di tangan ada kewenangan Otsus mari kita bicara, mari kita atur, kita mau bikin apa. Sasaran sudah jelas, Papua Baru. Papua yang Damai, Papua yang sejahtera, Papua yang bermartabat. Sekeping sorga, dimana orang hidup damai tanpa rasa takut, orang Papua bisa sekolah dengan baik, bisa mengunjungi rumah sakit dengan fasilitas dan layanan yang bagus, secara ekonomi mereka bisa hidup dengan penghasilan yang layak.

Penggalan tulisan Thaha Moh. Alhamid dalam artikelnya berjudul “Kaka Bas Pulang Kampung” ini (http://www.aldepe.com/2011/05/kaka-bas-pulang-kampung.html), terasa begitu pas untuk melukiskan semangat Ibu Sofia Mapauw, anggota Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Papua Barat yang baru saja pulang kampong melakukan kunjungan kerja bersama Timja Asmasda (Tim Kerja Aspirasi Masyarakat Daerah) Komite IV DPD.

Salah satu rekomendasi Tim Asmasda dari hasil kunker yang disampaikan ke media pada 15 September 2011 itu antara lain meminta Pemerintah segera mengevaluasi pengelolaan dana Otsus dan dana dekonsentrasi yang nilainya triliunan rupiah itu di wilayah Papua. Dana itu dikucurkan oleh Pemerintah Pusat kepada Gubernur Papua dan Papua Barat namun tidak dikelola secara tepat sasar sesua tata cara penggunaan dana otsus dan dana dekon.

Pertanyaannya, kenapa sampai terjadi salah atur dan salah urus atas kedua jenis alokasi anggaran itu? Apakah karena juklak dan juknisnya tidak jelas sehingga kedua pejabat daerah itu harus menjabarkan sendiri sesuai dengan kebutuhan wilayahnya? Jika itu sebabnya, semestinya tidak hanya terjadi di wilayah Papua, tetapi juga terjadi merata di provinsi-provinsi lainnya.

Ataukah karena Papua punya kebijakan khusus (baca : Otsus) sehingga kebijakan desentralisasi fiskal di wilayah itu juga berlaku khusus? Seperti apakah kebijakan fiskal khusus untuk “daerah khusus” itu? Saya khawatir, kalau segalanya serba khusus, salah urus atas dana Otsus dan dana dekon itu memiliki modus khusus pula…?!

Saya tidak mau berlama-lama terjebak dalam suasana batin yang penuh syak-wasangka. Karenanya Pemerintah perlu segara merespon temuan Tim Asmasda DPD dengan mengirim tim kecil sesegera mungkin terbang ke ufuk timur menemui Kaka Bas (Barnabas Suebu) dan Pace Bram (Abraham Atururi), bukan untuk menghukum mereka tetapi untuk sama-sama berbenah bersama kedua penjabat baru gubernur di kedua provinsi paling timur itu, agar salah urus dan salah atur tadi tidak terus berlanjut.

Mau membenahinya pakai pendekatan apa (UU Otsus dan Inpres No.5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat) atau pakai aturan umum, tak jadi soal, karena filosofinya pasti sama, yakni KESEJAHTERAAN dan KEMAKMURAN RAKYAT.Definis kesejahteraan dan kemakmuran itu tidak usah muluk-muluk. Definisi itu ada pada paragraf pertama tulisan ini. Untuk mempertegas kembali saya copas saja :

“… Di tangan ada kewenangan Otsus mari kita bicara, mari kita atur, kita mau bikin apa. Sasaran sudah jelas, Papua Baru. Papua yang Damai, Papua yang sejahtera, Papua yang bermartabat. Sekeping sorga, dimana orang hidup damai tanpa rasa takut, orang Papua bisa sekolah dengan baik, bisa mengunjungi rumah sakit dengan fasilitas dan layanan yang bagus, secara ekonomi mereka bisa hidup dengan penghasilan yang layak.

New Deal for Papua

Kita sudah sama-sama tahu, bahwa Pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Inpres No. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat untuk meredam tuntutan pemisahan diri yang hingga kini masih bertiup kencang dari Tanah Papua. Kebijakan baru (baca : new deal) itu kemudian diikuti kuncuran dana triliunan rupiah setiap tahunnya ke bumi cenderawasih. Kebijakan ini dalam perjalanannya ternyata tidak semulus harapan.

Penyebabnya juga tidak tunggal. Mulai dari yang paling jamak yakni KORUPSI (karena memang para pengelola dana Otsus dengan tahu dan mau menilep-nya untuk memenuhi pundi-pundi pribadi secara ilegal), juga karena perangkat daerah belum dipersiapkan secara baik untuk mengelola “tumpukan” harta yang datang tiba-tiba itu, untuk sebesar-besarnya dikelola bagi kemakmuran rakyat Papua.

Yang tidak kalah pentingnya adalah soal kewenangan pengelolaan yang tampaknya masih diberikan dengan setengah hati. Contohnya, tahun 2011 Pemerintah mengalokasikan dana otsus dan dana penyesuaian sebesar Rp 49,3 triliun untuk Papua dan Aceh. Persoalannya, yang mengetahui kebutuhan di daerah adalah pemerintah daerah dan masyarakatnya.Tetapi penganggarannya ditetapkan oleh pemerintah pusat (kecuali dana dekon), namun tidak ada perangkat aturannya dari pemerintah pusat. Sehingga, uang tersebut terkesan dimanfaatkan saja “sesuka hati” oleh gubernur. Selainnya program pembangunan menjadi kurang terarah, Badan Pemeriksa Keuangan juga kesulitan melakukan audit.

Celah inilah yang kemudian “dimanfaatkan” oleh banyak pihak (termasuk juga oleh okum-oknum pejabat di pusat) untuk menangguk untung di air keruh. Belum lagi “aksi-aksian” ormas/lembaga/forum/LSM tertentu (tidak tertutup kemungkinan oknum wakil rakyat di pusat dan daerah) yang di permukaan tampak peduli menyuarakan anti-korupsi tetapi ujung-ujungnya minta jatah.

Jika celah ini tidak segera disumbat, maka dana Otsus (baca : new deal for) Papua akan semakin banyak raib. Kalau raibnya ke Kota dimakan oleh orang-orang di seputaran pak pejabat (daerah dan pusat), kalau raibnya ke “hutan” dimakan gerombolan pemberontak dan para pejuang separatis. Itulah sebabnya mengapa new deal for Papua yang mestinya mampu mengubah wajah kemiskinan Papua dalam 25 tahun, namun hasilnya belum tampak signifikan kendati “masa kontrak”-nya sudah berjalan 10 tahun. Bahkan terkesan “kurang galak” ketimbang aksi-aksi gerilya para pejuang papua merdeka yang bertambah yakin bahwa “kemerdekaan” Papua sudah semakin dekat.

Tinggal kita maunya bagaimana : mengejar sisa waktu yang hitungannya tinggal 3 kali lagi putaran Pilpres untuk bekerja mati-matian dengan hati dan iman agar PAPUA BISA DIPERTAHANKAN dengan “senjata” KESEJAHTERAAN dan KEMAKMURAN atau mempertahankannya dengan bedil tentara…..!!!

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s