Zona Hukum

Aceh Belum Sepenuhnya Aman dari Senjata Api Ilegal

Aceh Belum Sepenuhnya Aman dari Senjata Api Ilegal

oleh : Sarjito Ir
Setelah hampir 6 tahun MoU Helsinki diteken, dinamika kehidupan sosial-politik di Aceh telah mengalami kemajuan luar biasa. Namun demikian, dalam proses mewujudkan masa depan bagi masyarakat Aceh yang lebih damai dan maju, ternyata masih ditemukan sejumlah kendala.

Beberapa di antaranya bahkan merupakan penyimpangan dan pelanggaran terhadap hakekat MoU Helsinki itu sendiri, di antaranya masih sering ditemukannya senjata ilegal di tangan para combatan GAM yang sering digunakan untuk melakukan teror dan intimidasi terhadap sesama warga Aceh lainnya.

Tanpa harus merujuk pada peristiwa tahun-tahun sebelumnya, fakta bahwa masih beredarnya senjata ilegal masih sangat mudah kita temukan. Hanya saja selalu lolos dari publikasi media massa nasional. Sepekan terakhir misalnya, setidaknya telah terjadi dua insiden terkait penggunaan senjata ilegal. Bahkan melibatkan orang dekat Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Insiden pertama terjadi Minggu dini hari tanggal 13 Pebruari 2011 di kawasan pedalaman Banda Alam, Aceh Timur.
Mapolres Aceh Timur telah menerima laporan warga (korban) bernama Amad Kompi. Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Priyo Utomo mengakui bahwa korban mengaku didatangi lima orang tak dikenal (OTK) diperkirakan lima orang dan bersenjata api jenis AK-47. Pelaku menodongkan sangkur dan senjata kepada korban sambil melakukan penggeledahan dan mengambil dompet serta KTP korban.

Insiden yang lebih menghebohkan lagi terjadi dua hari sebelumnya. Jumat dini hari tanggal 11 Pebruari 2011 letusan senjata api menggegerkan warga di kompleks perumahan Lambheu, Keutapang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Dandim 0101/Abes, Letkol Inf Terry Tresna Purnama dalam pernyataannya sebagaimana dilansir media online aceh.tribunnews.com mengatakan, kasus letusan senjata itu terjadi ketika serombongan OTK mendatangi rumah seorang kontraktor di Banda Aceh, yaitu T Syahreza Darwin (Pon Cut). Dalam rombongan itu, sebagaimana keterangan Pon Cut kepada wartawan, ada orang dekat Irwandi Yusuf, bernama Izil Azhar alias Ayah Merin.

Karenanya, insiden itu buru-buru ditutupi oleh Gubernur NAD melalui upaya damai. Kepada pers Irwandi justru balik menuding bahwa kasus Ayah Merin-Pon Cut itu sengaja dimanfaatkan oleh pelanduk-pelanduk politik untuk memanas-manasi situasi.

Sebagai bangsa kita berharap masyarakat Aceh dapat melewati masa transisi ini dengan baik. Kendala-kendala, apapun bentuknya mestinya dapat dibenahi tanpa harus memojokkan atau mengkambing-hitamkan pihak tertentu. Tak ada yang bisa memastikan, berapa lama masa transisi ini akan berlangsung. Itu sangat tergantung pada seberapa bisa kita sebagai bangsa mampu mengatasi gejolak sosial yang terjadi di Bumi Serambi Mekkah itu secara arif. Karena jika dibiarkan, maka masa depan perdamaian Aceh yang dengan susah payah telah dibangun akan terancam.

Categories: Zona Hukum

Tagged as: , , ,

1 reply »

  1. pe-er buat aparat keamanan di aceh,
    berikan pencerahan kepada masyarakat utk menyerahkan senjata api eks konflik kepada aparat keamanan, dan lakukan razia agar kedamaian aceh yang sdh tercipta tetap kondusif menuju situasi yang semakin ideal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s